BANYUMAS – Pada hari Rabu, 21 Oktober 2026, Pondok Pesantren Attaujieh Al-Islamiy 2 Andalusia mengadakan perlombaan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional. Diikuti oleh ribuan santri, perlombaan ini menjadi pengingat pergerakan pesantren yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan sangat berpengaruh bagi bangsa ini.
Tak berhenti di situ, sorotan utama pada acara tersebut adalah koreografi setinggi gedung tiga lantai yang membentang di salah satu gedung SMP Pondok Andalusia.
Koreografi tersebut menggambarkan beberapa karakter pejuang pada zamannya, yaitu Sparta, prajurit Romawi, dan sosok capo suporter yang selalu memimpin di depan.
Tak hanya karakter pejuang, latar suasana pada koreografi tersebut digambarkan dengan asap hitam layaknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sedang terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
”Sparta melambangkan pertahanan, prajurit Romawi melambangkan peperangan, sedangkan capo melambangkan kepemimpinan. Spirit of Andalusia never dies, all eyes on Karhutla!” ujar Faith (17), salah satu santri kelas 12 Andalusia yang membuat koreografi tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa santri bukanlah kalangan yang tertinggal zaman dan tidak peduli dengan keadaan masyarakat luar. Sebaliknya, sejak awal santri memang ditempa untuk terjun ke masyarakat dan membangun bangsa.
Peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum mengenang perjuangan para santri pendahulu dalam merebut kemerdekaan bangsa. Kini, para santri Andalusia yang masih di tingkat SMP dan SMA berusaha menyuarakan isu karhutla yang sedang menimpa saudara-saudara di daerah lain.
Meskipun memiliki keterbatasan akses internet dan berstatus sebagai santri yang notabene ruang geraknya terbatas, mereka tetap bersuara melalui kreativitas yang dimiliki.
Kalian kapan?
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga negeri kita dari bencana ini. Yang luka lekas pulih, yang pulih lekas membaik, dan yang membaik tidak mengalami bencana ini lagi.
#AllEyesOnKarhutla
Oleh: Mujiburrohman

