BANYUMAS — Ma’had Aly Andalusia kembali menggelar prosesi Wisuda Ke-3 pada Senin (19/10/2026). Momentum ini tidak hanya menjadi penanda keberhasilan para mahasantri dalam menyelesaikan masa pendidikan, tetapi juga awal perjalanan baru bagi para wisudawan untuk terus menapaki jalan keilmuan, memperdalam pemahaman, serta mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.
Dalam kesempatan tersebut, Syekh Fathi menyampaikan sejumlah nasihat yang diterjemahkan oleh Ustadz Humaidzi. Dalam dawuhnya, beliau mengawali dengan mengingatkan pentingnya rasa syukur, termasuk menghargai jasa sesama manusia. Beliau mengutip hadis Rasulullah saw.:
مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللَّهَ
“Barang siapa tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu tidak terlepas dari pertolongan Allah Swt., serta peran para guru dan orang-orang yang telah memberikan doa, bimbingan, dan dukungan selama proses pendidikan.
Lebih lanjut, Syekh Fathi menegaskan bahwa kebahagiaan setelah menyelesaikan pendidikan merupakan hal yang patut disyukuri. Namun, kebahagiaan tersebut tidak seharusnya menjadikan para wisudawan berhenti menuntut ilmu. Sebaliknya, syahadah atau ijazah yang telah diraih hendaknya menjadi pijakan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Beliau menyampaikan sebuah ungkapan dalam bahasa Arab:
الشَّهَادَةُ تَدُلُّ عَلَى بِدَايَةِ الْعِلْمِ
“Syahadah menunjukkan permulaan ilmu.”
Ungkapan tersebut mengandung pesan bahwa syahadah bukanlah tanda berakhirnya perjalanan keilmuan, melainkan awal dari langkah yang lebih luas dalam menimba ilmu pengetahuan. Setelah memperoleh gelar, para wisudawan justru memasuki tahap baru untuk terus belajar, memperluas wawasan, dan memperdalam pemahaman.
Untuk memperkuat pesan tersebut, Syekh Fathi menceritakan pengalamannya bersama gurunya, Dr. Muhammad Yusri Sayyid Ahmad Zuair, yang telah mengajar beliau dalam dunia pendidikan sejak tingkat Tsanawiyah, atau yang setara dengan jenjang Aliyah dalam konteks pendidikan yang beliau sampaikan.
Syekh Fathi menuturkan bahwa setelah memperoleh gelar doktor, beliau pernah mengucapkan selamat kepada gurunya. Namun, jawaban sang guru justru memberikan pelajaran mendalam tentang hakikat ilmu dan makna sebuah gelar akademik.
Dr. Muhammad Yusri menjelaskan bahwa gelar doktor yang diperolehnya bukanlah tanda bahwa dirinya telah mencapai puncak keilmuan. Sebaliknya, syahadah tersebut merupakan pengakuan dari para guru bahwa dirinya telah memiliki kemampuan untuk menulis, membaca, dan memahami ilmu. Baginya, gelar tersebut justru menjadi titik awal untuk melangkah lebih jauh sebagai seorang penuntut ilmu.
Dari gurunya, Syekh Fathi juga mengutip ungkapan:
الْعِلْمُ لَا نِهَايَةَ لَهُ
“Ilmu tidak memiliki batas akhir.”
Ungkapan ini menegaskan bahwa perjalanan menuntut ilmu tidak berhenti pada usia, gelar, maupun pencapaian akademik tertentu. Selama Allah Swt. masih memberikan umur dan kesempatan, setiap orang hendaknya terus berusaha memperluas pengetahuan dan melangkah menuju jenjang keilmuan berikutnya.
Pada bagian akhir, Syekh Fathi mengingatkan bahwa tujuan menuntut ilmu bukan semata-mata untuk memperoleh syahadah, gelar, atau pengakuan manusia. Lebih dari itu, ilmu hendaknya menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt., memperbaiki kualitas diri, serta memberikan manfaat bagi sesama.
Nasihat tersebut menjadi pengingat bagi seluruh wisudawan Ma’had Aly Andalusia bahwa kelulusan bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Syahadah yang diraih hendaknya menjadi motivasi untuk terus belajar, menjaga keikhlasan, mengamalkan ilmu, dan menjadikan perjalanan keilmuan sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah Swt. dan masyarakat.
Oleh: Zahrotun Nazwa
GALERI



