Suatu ketika, dalam obrolan santai, saya mendapat cerita yang cukup membekas, bahwa Abah Anam sebenarnya lebih menyukai santri yang berpikir kritis, yang berani menanyakan perihal apapun, terutama seputar ilmu. Bahkan sopir pertama beliau pun bercerita kepada saya bahwa ia sering bertanya tentang apa pun selama menemani perjalanan Abah, dan Abah dengan senang hati selalu menjawab.
Saya terkesima sekaligus sepakat. Itu menjadi konfirmasi dari apa yang memang sudah sering Abah Anam tanbihkan: jangan menjadi santri yang pasif. Dan pasif yang beliau maksud, saya kira, bukan soal pendiam atau tidak vokal melainkan absennya critical thinking, matinya keinginan untuk mempertanyakan. Memang seharusnyalah lingkungan pesantren dihidupi dengan diskursus keilmuan.
“Ngaji kui sing aktif, ojo pasif! Nek pasif cukup tahlilan wae rampung”
“Ngaji itu yang aktif, jangan pasif! Kalau pasif cukup tahlilan saja selesai”
Dawuh Abah Anam sewaktu ngaji Audohul Masalik.
Seiring waktu berjalan, saya baru memahami apa esensi dari dawuh tersebut. Bahwa dawuh itu menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam dari apa yang tampak. Ngaji bukan proses yang selesai ketika halaman habis. Ngaji baru baru benar-benar dimulai justru setelah itu. Ketika seseorang mulai mempertanyakan, mulai menanyakan alasan-alasan, mengajukan kemusykilan, bahkan kontra, muqabalah dengan kitab-kitab lain, dan seterusnya.
Sebetulnya ruang itu sudah lama dibangun dalam sistem pesantren—bahtsul masail, munadzarah, mudzakarah, musyawarah, dan sejenisnya. Bukan tradisi seremonial, melainkan infrastruktur keilmuan yang sengaja dibangun agar pertanyaan memiliki ruang untuk hidup. Tetapi ruang yang kosong tidak akan mengisi dirinya sendiri.
Yang sedang terjadi sekarang bukan ruang-ruang itu yang hilang, melainkan hilangnya sesuatu yang jauh lebih mendasar: rasa ingin tahu atau yang dalam paradigma modern yang disebut sebagai curiosity.
Keingintahuan itulah fundamental dari segalanya, yang sekarang cenderung padam. Bukan karena santri sekarang tidak cerdas. Bukan pula karena akses terhadap ilmu berkurang. Melainkan karena kebiasaan untuk bertanya, untuk merasa tidak puas, untuk merasa belum cukup—semua itu menurun, atau bahkan hilang.
Dan keingintahuan itu tidak akan tumbuh sendiri. Ia perlu dipupuk. Salah satu caranya—yang paling sederhana sekaligus sering disepelekan—yaitu membaca. Bukan membaca sebagai kewajiban akademik, bukan membaca untuk mengejar hafalan. Membaca sebagai kebiasaan yang tulus: membuka buku, masuk ke dalamnya, dan membiarkan isi kepalamu bergerak. Karena dari membacalah pertanyaan akan lahir. Dari membacalah seseorang mulai sadar bahwa yang ia tidak tahu tahu jauh lebih besar dari yang ia kira.
Yang sedang mengalami penurunan sekarang bukan hanya kebiasaan membaca—tetapi kesadaran yang seharusnya lahir darinya. Kesadaran bahwa kita tidak tahu. Bahwa ketidaktahuan bukanlah aib, melainkan titik berangkat. Bahwa bertanya bukan tanda kurang ta`dzim, melainkan justru awal dari keaktifan berpikir yang sesungguhnya.
Terbiasa taslim itu awal dari pasif. Terbiasa sendiko dawuh juga awal dari pasif sendiko dawuh dalam ranah ta`dzim tentulah wajib, tetapi dalam ranah tafkir itu yang seharusnya tidak sempit. Menanyakan sesuatu, bahkan berseberangan dengan suatu pendapat bukan berarti tidak ta`dzim justru di situlah keaktifan berpikir bermula.
Maka, ayolah hidupkan kembali rasa ingin tahu itu. Baca, bertanya, berdiskusi. Isi ruang-ruang yang ada, atau bangunlah dengan inovasi-inovasi yang baru. Yang jelas, diskursus keilmuan itu harus selalu bernapas. Tidak hanya dalam agenda resmi, tetapi dalam kebiasaan sehari-hari kita sebagai santri.
Oleh: Nahja Muhammad
