LELER, BANYUMAS — Kegiatan Khotaman Khowajikan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Mujaddidiyah Leler Andalusia berlangsung khidmat di Gedung Zawiyyah Naqsyabandiyah, Leler, Banyumas, Rabu malam (21/10/2026). Kegiatan ini dihadiri Prof. Dr. Syekh Fathi Abdurrohman Hijazi bersama putranya, Syekh Mahmud Fathi Hijazi, serta Syekhuna KH. Zuhrul Anam Hisyam selaku mursyid tarekat. Sekitar 1.200 ikhwan turut mengikuti rangkaian acara tersebut.
Sebelum acara dimulai, para ikhwan yang telah berdatangan melantunkan selawat bersama sembari menunggu kedatangan Syekh Fathi Abdurrohman Hijazi. Suasana khidmat menyelimuti Gedung Zawiyyah Naqsyabandiyah hingga rangkaian kegiatan dimulai.
Sebelum memasuki prosesi utama, KH. Zuhrul Anam Hisyam membaiat sejumlah calon ikhwan yang hendak mengikuti Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Mujaddidiyah. Prosesi baiat tersebut merupakan ikrar kesetiaan calon ikhwan untuk menempuh jalan spiritual tarekat di bawah bimbingan mursyid.
Acara kemudian diawali dengan sambutan KH. Zuhrul Anam Hisyam. Dalam sambutannya, beliau menjelaskan sejarah berdirinya Gedung Zawiyyah Naqsyabandiyah, perkembangan jumlah ikhwan, serta penyebaran jamaah ke berbagai daerah, khususnya di Pulau Jawa.
Setelah sambutan, KH. Zuhrul Anam Hisyam memimpin prosesi Khotaman Khowajikan yang diikuti para ikhwan dengan penuh kekhusyukan. Seusai prosesi tersebut, rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan selawat Ngibadallah Rijalallah, yang menjadi salah satu tradisi di lingkungan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah.


Memasuki acara inti berikutnya, Prof. Dr. Syekh Fathi Abdurrohman Hijazi menyampaikan mauizah hasanah yang diterjemahkan oleh Ustaz Humaidi selaku khadam beliau. Dalam nasihatnya, Syekh Fathi menjelaskan tentang dzikir khafi (dzikir dalam hati) dan dzikir jahr (dzikir yang dilafalkan). Beliau juga menerangkan tujuan utama menempuh tarekat, yakni mendekatkan diri kepada Allah Swt. dan mengharapkan rida-Nya.
Pesan tersebut terangkum dalam ungkapan:
إلهي أنت مقصودي ورضاك مطلوبي
“Ya Tuhanku, Engkaulah tujuanku dan rida-Mu yang aku cari.”
Syekh Fathi turut menekankan pentingnya keikhlasan dalam setiap amal serta ilmu sebagai fondasi perjalanan spiritual. Beliau menyampaikan prinsip:
طريقة نقشبندية مبنى على العلم
“Tarekat Naqsyabandiyah dibangun di atas ilmu.”
Beliau juga menukil perkataan gurunya, Syekh Najmuddin al-Kurdi:
طالب العلم ورده العلم
“Wirid bagi seorang pencari ilmu adalah ilmu.”
Pesan tentang hubungan ruhani antara murid dan guru menjadi salah satu hal yang paling berkesan bagi M. Fuadin, ikhwan asal Gentasari. Ia mengutip dawuh Syekh Fathi, “إن شيخك يلازمك حياً وميتاً إلى يوم القيامة”, yang bermakna bahwa seorang syekh senantiasa menyertai muridnya, baik ketika masih hidup maupun setelah wafat, hingga hari kiamat.
“Hal yang paling berkesan bagi saya adalah dawuh tersebut, bahwa hubungan ruhani antara murid dan syekh tidak terputus oleh kematian. Saya berharap Tarekat Leler semakin meluas dan dapat diikuti semua kalangan, bukan hanya ahli ilmu, dengan keberkahan sanad dan ketokohan guru kita, Syekh Zuhrul Anam Hisyam,” ujar M. Fuadin.
Setelah mauizah hasanah, KH. Zuhrul Anam Hisyam menjelaskan keterkaitan keilmuan dan sanad tarekatnya dengan Syekh Fathi Abdurrohman Hijazi serta KH. Maimoen Zubair atau Mbah Moen. Beliau juga menyebut Syekh Nursaif dalam penjelasan mengenai jalur sanad yang dimilikinya.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan makan bersama sebagai momentum kebersamaan para ikhwan setelah mengikuti zikir, selawat, dan nasihat keagamaan.
Melalui kegiatan ini, para ikhwan diharapkan semakin memperkuat keikhlasan, memperdalam ilmu agama, serta menjaga kesinambungan tradisi keilmuan dan spiritual dalam Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Mujaddidiyah.
Oleh : Mahbub ‘Athoillah
