Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Untuk para santri dan keluarga besar Andalusia, izinkan saya berbagi sedikit cerita dari Mesir. Nama saya Yafi, asli Brebes, Jawa Tengah. Dulu saya santri seperti kalian: ambil makan di dapur, ikut kelas diniyyah, ngaji malam bersama abah, dan terkadang melakukan pelanggaran. Saya bukan santri yang sempurna. Justru karena itu saya ingin menulis ini, supaya kalian tahu bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil yang dijalani di pondok ternyata menjadi bekal besar di tempat yang jauh.
Kuliah dan Ngaji Talaqqi
Jujur saja, awal saya di sini cukup bikin kaget. Proses ijra’at (mengurus keperluan kuliah) sangat panjang, mulai dari meminta istimarah tahlil dam (formulir tes darah) sampai menyerahkan semua berkas yang dibutuhkan. Kelasnya selalu penuh, sampai ada mahasiswa yang tidak kebagian tempat duduk. Dosen berbicara cepat, istilahnya berat, dan semua rujukan berbahasa Arab. Di saat seperti itulah modal bahasa dari pondok terasa sekali. Tanpa bekal itu, saya akan jauh lebih kewalahan.
Saya banyak bergelut dengan kitab dan maddah baru yang belum pernah saya pelajari di pondok, seperti Tarikh Tasyri’ dan Fiqh Muqaran. Kalau di pondok kita lebih sering membaca matan, di sini kita bertemu syarah yang berlapis-lapis. Pengarang mengutip pendapat ulama lain, membantahnya, lalu menimbang mana yang lebih kuat. Satu halaman kadang butuh satu jam hanya karena ada satu istilah yang harus dicari dulu maknanya. Tapi dari situ saya belajar bahwa memahami satu hal dengan benar lebih berharga daripada menamatkan banyak halaman dengan terburu-buru.
Di luar jam kuliah, ada ngaji talaqqi bersama para masyayikh. Banyak majelis yang menyelenggarakan kajian dari pagi sampai malam. Kita tinggal memilih mana yang diinginkan, berangkat, duduk, mendengarkan penjelasan syaikh, mencatatnya, dan sesekali bertanya kalau ada kesempatan.
Bedanya dengan kuliah, kuliah mengejar target materi, sedangkan di majelis talaqqi syaikh sering berhenti lama pada satu kata dan menjelaskan kenapa pengarang memilih kata itu, bukan kata yang lain. Dalam usul fiqh hal ini penting sekali, karena satu qayyid kecil dalam sebuah kaidah bisa mengubah hukum yang dihasilkan. Dari situ saya sadar bahwa ilmu tidak cukup dihafal. Kita harus tahu bagaimana ulama berpikir. Dan cara menyimak guru dengan tenang, yang kita latih sejak di pondok, adalah modal pertama untuk bisa duduk di majelis seperti ini.
Di Luar Kuliah
Sebagai mahasiswa perantau, urusan sehari-hari ikut jadi pelajaran. Saya tinggal bersama teman-teman satu rumah, dan kami belajar membagi tugas: siapa belanja, siapa masak, siapa membersihkan rumah. Makanan khas sini seperti ‘isy, ta’miyah, dan kosyari memang ada di mana-mana, tapi saya jarang sekali memakannya. Jujur saja, makanan nusantara tetap yang paling saya rindukan dari rumah.
Soal organisasi, awalnya saya cenderung menjauh. Bapak pernah berpesan bahwa organisasi tidak terlalu penting, yang utama itu belajar, dan pesan itu saya pegang. Di awal saya tidak ikut organisasi apa pun. Tapi makin ke sini saya merasa belajar saja belum cukup. Saya juga butuh relasi dan pengalaman, jadi saya mulai ikut menjadi panitia di beberapa acara, lalu memutuskan bergabung dengan Ansor di PCINU Mesir. Terus terang saya tidak langsung nyaman. Saya datang tanpa banyak pengetahuan tentang organisasi, sehingga banyak hal harus dipelajari dari awal. Tapi saya belajar bahwa tidak apa-apa memulai dari nol, asal mau memulai. Belajar di kelas dan belajar bersama orang lain ternyata saling melengkapi.
Naik tremco dan tuktuk juga jadi cerita tersendiri. Sopirnya sering ugal-ugalan, penumpang lain tidak mau mengalah, dan barang bawaan harus dijaga baik-baik. Awalnya saya tidak nyaman, tapi lama-lama terbiasa. Dari situ saya belajar sabar dan lebih hati-hati.*Hobi dan Waktu Santai*Kalau lagi capek, saya biasanya menonton dan scroll media sosial, dan terkadang saya juga ngobrol ringan dengan teman. Kegiatan sederhana begini justru menjaga semangat belajar tetap hidup. Pesan saya untuk pembaca: belajar dengan serius itu perlu, tapi jangan lupa punya ruang untuk bernapas.
“Without a considerable amount of leisure a man is cut off from many of the best things.”
Bertrand Russell, In Praise of Idleness (1932)
Ziarah dan Sowan
Salah satu hal yang paling berkesan di Mesir adalah kesempatan berziarah ke makam para ulama. Di Kairo, terutama di kawasan Qarafah, kita bisa berziarah ke makam Imam Syafi’i, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam al-Laits bin Sa’d, dan Imam Jalaluddin al-Suyuthi. Nama-nama ini tidak asing bagi para penuntut ilmu, terutama yang akrab dengan kitab-kitab fikih, hadis, dan tafsir di pesantren.
Mesir juga menyimpan banyak peninggalan sejarah Islam lainnya. Di Alexandria, terdapat makam Imam al-Bushiri, pengarang Qasidah Burdah, serta makam Abu al-Abbas al-Mursi yang dikenal dalam tradisi tasawuf. Nama-nama yang selama ini kita baca di halaman kitab ternyata punya jejak yang nyata di negeri ini. Berdiri di tempat-tempat itu mengingatkan saya bahwa kita yang sedang belajar hari ini sedang menyambung rantai yang panjang. Adik-adik yang sekarang mengeja kitab di pondok adalah bagian dari rantai yang sama.
Selain ziarah, ada juga kesempatan sowan ke para masyayikh di rumah atau tempat mengajar mereka. Suasananya hangat. Kita disambut dengan ramah, ditanya kabar dan keadaan belajar, lalu diberi nasihat. Sering kali nasihat singkat dalam sowan itu lebih membekas daripada satu bab pelajaran. Biasanya isinya sederhana: istiqamah, jaga niat, dan tetap semangat belajar.
Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia. Bekal ilmu yang saya dapat di pondok sangat membantu, sehingga saya tidak terlalu kesulitan belajar di sini. Untuk adik-adik santri, apa pun yang kalian pelajari sekarang, meskipun terasa berat atau membosankan, akan terpakai suatu saat nanti. Terima kasih juga kepada para ustadz dan semua yang telah membimbing saya.Mohon maaf apabila ada kata yang kurang berkenan atau cerita yang kurang lengkap. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Oleh M Yafi Azkia
