Perjalanan menuntut ilmu bukanlah sekadar proses menyerap informasi secara instan, melainkan sebuah ikhtiar panjang yang menuntut fondasi mental, spiritual, dan fisik yang kokoh. Dalam nasehatnya, Syekh Fathi menguraikan secara mendalam mutiara hikmah dari Imam Asy-Syafi’i mengenai enam syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap pencari ilmu. Uraian ini tidak hanya menjadi panduan akademis, tetapi juga kompas moral bagi para santri agar senantiasa istikamah, disiplin, dan bersungguh-sungguh dalam mengarungi samudra keilmuan.
أَخِي لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إِلَّا بِسِتَّةٍ ۞ سَأُنْبِيكَ عَنْ تَفْصِيلِهَا بِبَيَانِ
ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ ۞ وَصُحْبَةِ أُسْتَاذٍ وَطُولِ زَمَانٍ
Artinya:
“Wahai saudaraku, engkau tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara. Aku akan menjelaskan kepadamu perinciannya dengan terang, yaitu kecerdasan, semangat, kesabaran, bekal yang cukup, pendampingan seorang guru, dan waktu yang panjang.”
Syekh Fathi kemudian menguraikan makna syair tersebut untuk memberikan pemahaman kepada para santri mengenai pentingnya kesungguhan, kedisiplinan, dan kesabaran dalam menempuh perjalanan keilmuan.
Pertama, kecerdasan (dzakā’). Syekh Fathi menjelaskan bahwa kecerdasan merupakan anugerah Allah Swt. yang perlu disyukuri dan dikembangkan. Setiap orang memiliki potensi yang harus diasah melalui proses belajar, latihan, dan kesungguhan. Oleh karena itu, para santri hendaknya tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dalam memahami pelajaran.
Kedua, semangat dan kesungguhan (hirsh). Menuntut ilmu membutuhkan keinginan yang kuat, kesungguhan, serta tekad untuk terus belajar. Seorang santri hendaknya memiliki semangat yang konsisten dalam mengkaji ilmu, mengulang pelajaran, dan memperdalam pemahaman terhadap berbagai disiplin keilmuan.
Ketiga, kesabaran (ishtibār). Proses menuntut ilmu tidak selalu berjalan mudah. Terkadang seorang santri harus menghadapi kesulitan dalam memahami kitab, menghafal pelajaran, maupun menjalani berbagai aktivitas pesantren. Karena itu, kesabaran menjadi bekal penting agar seorang penuntut ilmu mampu bertahan dan terus melangkah hingga memperoleh pemahaman yang baik.
Keempat,bekal yang cukup (bulghah). Syekh Fathi menjelaskan pentingnya ketersediaan bekal yang memadai untuk menunjang proses belajar. Bekal tersebut mencakup kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk makanan yang cukup, agar seorang santri dapat menjalani kegiatan belajar dengan baik. Kebutuhan jasmani yang terpenuhi membantu santri menjaga kondisi tubuh dan memusatkan perhatian pada ilmu yang dipelajari.
Kelima, pendampingan seorang guru (shuhbatu ustādz). Syekh Fathi menekankan pentingnya kedekatan seorang murid dengan gurunya. Seorang santri hendaknya bersungguh-sungguh menyimak penjelasan guru, menjaga adab, serta mengikuti bimbingan dalam memahami kitab dan berbagai cabang ilmu. Belajar secara mandiri tetap memiliki tempat, tetapi bimbingan guru diperlukan agar pemahaman terhadap ilmu lebih terarah dan terhindar dari kekeliruan.
Keenam, waktu yang panjang (thūlu zamān). Menuntut ilmu merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan ketekunan dan kesinambungan. Ilmu tidak dapat diperoleh secara instan, melainkan melalui proses belajar yang terus-menerus, pengulangan, pengamalan, dan pendalaman dari waktu ke waktu.
Selain menjelaskan enam syarat menuntut ilmu, Syekh Fathi juga menyampaikan nasihat tentang pentingnya mengatur pola makan, minum, dan tidur agar waktu seorang santri tidak terbuang sia-sia. Dalam penjelasannya, ia mengutip sebuah ungkapan berbahasa Arab:
مَنْ أَكَلَ كَثِيرًا شَرِبَ كَثِيرًا، وَمَنْ شَرِبَ كَثِيرًا نَامَ كَثِيرًا، وَمَنْ نَامَ كَثِيرًا فَاتَهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ
Artinya:
“Barang siapa makan terlalu banyak, ia akan banyak minum. Barang siapa banyak minum, ia akan banyak tidur. Dan barang siapa banyak tidur, ia akan kehilangan banyak kebaikan.”
Melalui ungkapan tersebut, Syekh Fathi mengingatkan para santri agar senantiasa menjaga keseimbangan dalam memenuhi kebutuhan jasmani dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Nasihat ini menjadi pengingat bahwa kehidupan pesantren menuntut kedisiplinan, pengendalian diri, dan kesungguhan dalam menjalankan aktivitas yang bermanfaat.
Para santri diharapkan mampu mengatur waktu antara istirahat, belajar, beribadah, dan mengulang pelajaran sehingga kesempatan menuntut ilmu dapat dimanfaatkan secara optimal.
Dalam menjelaskan pentingnya waktu yang panjang dalam menuntut ilmu, Syekh Fathi menukil nasihat Syekh Najmuddin bin Muhammad Al-Kurdi, salah seorang guru utama yang disebut dalam penuturan tersebut. Nasihat itu terangkum dalam ungkapan bahasa Arab:
عُمْرُ نُوحٍ، وَصَبْرُ أَيُّوبَ، وَمَالُ قَارُونَ
Artinya, “Umur seperti Nabi Nuh, kesabaran seperti Nabi Ayub, dan harta seperti Qarun.”
Ungkapan tersebut mengandung tiga pelajaran penting bagi para penuntut ilmu.
Pertama, umur seperti Nabi Nuh, yang menggambarkan panjangnya waktu dan kesinambungan dalam menuntut ilmu. Seorang santri harus memiliki kesadaran bahwa proses belajar tidak berhenti setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren, melainkan berlangsung sepanjang hayat.
Kedua, kesabaran seperti Nabi Ayub, yang melambangkan keteguhan dalam menghadapi berbagai ujian. Dalam perjalanan menuntut ilmu, seorang santri perlu bersabar ketika menghadapi kesulitan memahami pelajaran, keterbatasan, maupun berbagai tantangan yang menguji kesungguhannya.
Ketiga, harta seperti Qarun, yang menggambarkan pentingnya kecukupan bekal materi untuk mendukung perjalanan belajar. Kebutuhan finansial yang terpenuhi dapat membantu seorang penuntut ilmu lebih berkonsentrasi pada pendidikan dan tidak terus-menerus terganggu oleh persoalan pemenuhan kebutuhan hidup. Ungkapan ini merupakan perumpamaan tentang kecukupan bekal, bukan anjuran untuk menumpuk kekayaan atau bermegah-megahan.
Melalui berbagai nasihat tersebut, Syekh Fathi mengajak para santri untuk memahami bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh semangat, kesabaran, kecukupan bekal, bimbingan guru, serta kesediaan untuk menjalani proses belajar dalam waktu yang panjang.
Penulis : Mahbub ‘Athoillah
GALERI






