LELER — Mentari pagi bulan September seakan ikut menyambut kedatangan sosok yang namanya sudah melegenda di Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia. Kali ini, bukan sebagai pengurus atau pengajar, melainkan sebagai salah satu mahasantri baru Ma’had Aly Andalusia.
Sosok maba tersebut bernama Saifurrohman Aly, yang dikenal dengan laqob pak Asep. Ia merupakan demisioner ketua pondok atau lurah Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia selama dua periode, yakni masa khidmah 2023–2024 dan 2024–2025. Selama menjabat, pak Asep dikenal dengan berbagai kebijakan dan gebrakan yang turut mewarnai perjalanan Pondok Andalusia.
Rekam jejak tersebut bahkan pernah dituangkan dalam syi’ir yang menggambarkan sosoknya sebagai ketua pondok dengan wibawa dan khidmah yang kuat.
«رَئِيسُهُ ذُو الْهَيْبَةِ الْعَلِيَّةُ # سَيْفُ الْعَلِي خِدْمَتُهُ جَلِيَّةً»
«Ketua pondoknya mempunyai wibawa yang tinggi, Saifurrohman ‘Ali, khidmahnya amat jelas.»
Syi’ir tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana sosok pak Asep dikenang ketika masih mengemban amanah sebagai ketua pondok. Bagi sebagian santri, masa kepemimpinannya bukan hanya tercatat dalam struktur kepengurusan, tetapi juga dalam pengalaman belajar dan keseharian mereka di pesantren.
“Saya sangat mengenang masa-masa Pak pak Asep ketika masih menjabat dan mengajari saya kitab Alfiyah Ijo,” ujar Ahmad Rojis salam (21) salah satu mahasantri andalusia.
Setelah selesai berkecimpung dalam dunia kepengurusan dan pendidikan pondok, pak Asep kembali mengambil posisi sebagai seorang pembelajar. Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, ia memilih melanjutkan pendidikan di Ma’had Aly Andalusia dan menjadi bagian dari mahasiswa baru tahun ini. Pilihan tersebut menjadi cukup menarik, mengingat sebagian besar mahasiswa baru Ma’had Aly berasal dari generasi kelahiran sekitar 2007–2008, sementara pak Asep datang dengan usia yang terpaut cukup jauh dari rata-rata teman seangkatannya.
Yang membuat kehadiran pak Asep semakin spesial, ia memasuki Ma’had Aly bukan hanya dengan pengalaman sebagai mantan ketua pondok, tetapi juga sebagai seseorang yang telah berkeluarga. Status sebagai pengantin baru dan kepala keluarga tidak membuat langkahnya berhenti untuk kembali duduk di bangku belajar. Ia justru memilih untuk menimba ilmu bersama mereka yang sebelumnya pernah berada dalam posisi sebagai muridnya.
“Saya amat kaget dan senang melihat Ustadz pak Asep ada di kelas saya. Walaupun usianya 30 lebih, semangatnya bagaikan santri baru yang baru masuk pondok. Saya harus banyak belajar dari beliau,” ujar Bakhit (19) salah satu teman kelas Pak Asep.
Di antara banyaknya wajah baru yang memasuki Ma’had Aly tahun ini, pak Asep menjadi salah satu sosok yang paling mudah dikenali. Bukan karena usianya, bukan pula karena pernah memimpin pondok, tetapi karena pilihannya untuk kembali menjadi murid setelah pernah berada di depan kelas. Dari seorang pemimpin menjadi pembelajar, dari yang dahulu mengajarkan Alfiyah kepada santri, kini kembali membuka kitab untuk mempelajarinya lebih dalam.
Kehadiran pak Asep di Ma’had Aly seakan menjadi pengingat bahwa perjalanan menuntut ilmu tidak mengenal batas usia maupun status. Pernah menjadi ketua pondok, pernah mengajar, telah berkeluarga, dan kini kembali duduk sebagai maba menunjukkan bahwa menjadi pembelajar bukanlah fase yang selesai ketika seseorang bertambah usia. Justru, semakin banyak pengalaman yang dimiliki, semakin luas pula alasan untuk terus belajar.
