Di tengah lantunan salawat yang mengambang dari masjid ke masjid, ada satu suara yang makin pelan: suara lembaran kitab kuning yang dulu jadi denyut nadi pesantren.
Hari ini, banyak santri lebih fasih menyebut channel YouTube ustadz favoritnya daripada membuka syarḥ Imrithi atau menyimak حاشية الباجوري. Ada yang bangga hafal quotes ulama dari reels Instagram, tapi tersendat ketika membaca Kitab Safinatunnaja. Dan tiba-tiba, turunlah kesedihan halus yang tak ramai—seperti gerimis yang basah tapi tak bersuara.
Lalu, ke mana kitab-kitab itu pergi?
Kitab kuning—gundul, penuh teka-teki, tanpa harakat—adalah simbol jihad intelektual kaum santri. Di balik setiap halaman kusut, ada tangis di bawah lampu temaram, ada dzikir yang tertinggal di sela-sela syarḥ. Tapi kini, ia hanya jadi pelengkap foto sebagin santri : difoto tapi tak dibaca, dipajang tapi tak dipelajari. Bukan karena santri tak sanggup. Tapi karena zaman sedang menggoda. Feed lebih cepat daripada faidah. Slide story lebih memikat daripada syarḥ sanad.
Kami sudah dengar isi kitab itu dari kajian online…

Iya. Tapi mendengar bukan berarti memahami. Kalau sekadar mendengar, burung pun bisa meniru suara. Para ulama dulu tidak cukup mendengar. Mereka mengunyah, menelan, bahkan tidur dengan kitabnya. Mereka berdebat di musyawarah, berdarah-darah di halaqah. Imam al-Syafi’i rahimahullah berkata:
مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ عَظُمَتْ قِيمَتُهُ، وَمَنْ نَظَرَ فِي الْفِقْهِ نَبُلَ قَدْرُهُ، وَمَنْ كَتَبَ الْحَدِيثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ
“Barangsiapa belajar Qur’an, ia akan mulia. Barangsiapa mendalami fiqh, derajatnya akan tinggi. Dan siapa yang menulis hadits, maka hujjahnya akan kokoh.” Tapi hari ini, ada santri yang lebih cepat mengetik “aamiin” di kolom komentar daripada menuliskan syarḥ di pinggir kitab.
Kitab kuning bukan sekadar buku. Ia adalah warisan—bahkan darah.
Imam Nawawi tidak menulis المجموع untuk dipajang dalam infografis. Syaikh Ibrahim al-Bajuri tidak menyusun ḥāsyiyah-nya agar disalin ke caption Instagram. Mereka menulis karena rindu. Karena cinta. Dan cinta itu tak bisa digantikan oleh like dan komentar.
Sekarang, mari kita lihat santri yang mengagumi kitab-kitab itu. Tertarik, tapi terjebak. Mereka terlalu sibuk memburu informasi yang cepat dan instan, seolah lupa bahwa ilmu bukan hanya tentang kecepatan akses, melainkan kedalaman pemahaman. Kitab-kitab itu, ketika dibaca dengan tekun, akan mengungkapkan rahasia-rahasia yang tak mungkin kita temukan hanya dengan sekali klik. Silakan dengar YouTube. Tapi jangan tinggalkan halaqah. Karena barokah ilmu ada di riḥlah, dalam duduk panjang di depan guru yang kadang batuk-batuk tapi sanadnya nyambung ke Rasul. Nabi bersabda:
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ “Ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang adil dari tiap generasi.” (رواه الخطيب البغدادي في الكفاية)
Tapi siapa ‘udūl-nya hari ini? Apakah semua yang bicara di live streaming itu terpercaya? Atau hanya pembaca Google Translate yang fasih meniru, tapi tak pernah membaca kitab ??

Mengaji Kitab = Merunduk pada Lautan Ilmu
Lihatlah, kiai membuka Taqrib—kitab kecil. Tapi beliau menjelaskan berjam-jam, mengaitkan dengan Qalyubiy, membandingkan dengan Zarkasyi, lalu menutup dengan pendapat Ulama Ulama Besar. Bukan panjang kitabnya, tapi dalam sanadnya.
قَالَ ٱلْإِمَامُ ٱلشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ ٱللَّهُ: “ٱلْعِلْمُ مَا نَفَعَ، لَيْسَ ٱلْعِلْمُ مَا حُفِظَ.”
“Ilmu itu yang bermanfaat. Bukan yang sekadar dihafal.” Tapi kini, ada santri yang mencatat, tapi tak paham. Menghafal, tapi tak merasa. Menulis, tapi tak menghidupkan. Kadang, kita hanya menginginkan ilmu itu tampil sempurna di kepala, tapi lupa bahwa hakikat ilmu adalah amal dan manfaat. Jangan tertipu oleh pameran hafalan. Karena, pada akhirnya, siapa yang lebih bijaksana? Yang hafal banyak atau yang menghidupi ilmunya dengan baik?
Menghidupkan Kitab = Menghidupkan Ulama
Kalau engkau rindu Imam Nawawi, bacalah Riyāḍuṣ-Ṣāliḥīn. Kalau kau bangga jadi santri, hidupkan talaqqi.
وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا طَرِيقَ إِلَىٰ مَعْرِفَةِ ٱلْفِقْهِ إِلَّا بِتَعَلُّمِهِ، وَلَا سَبِيلَ إِلَىٰ تَعَلُّمِهِ إِلَّا مِنْ أَفْوَاهِ ٱلْفُقَهَاءِ —الإمام الزرنوجي، تعليم المتعلم
Ilmu tak akan sampai dari layar datar. Tapi dari suara yang kadang serak—guru yang terus mengulang karena santrinya belum paham. Terkadang kita lupa bahwa kunci keberkahan ilmu terletak pada proses pengajiannya, pada jembatan-jembatan yang kita buat dengan para ulama. Mengabaikan itu hanya akan membuat kita miskin akan keberkahan. Jangan jadi santri yang hafal banyak kitab, tapi tidak punya kedalaman hati dalam setiap kata yang dipelajari. Kita tak anti internet. Tapi jangan jadikan gadget sebagai qiblat belajar. TikTok boleh, tapi Fathul Qorib jangan ditinggal. Podcast silakan, tapi jangan sampai Ḥāsyiyah al-Bājūrī berdebu dan bersedih. Karena bukan santri namanya kalau belum pernah tersesat di dalam syarḥ, dan tersadar dalam musyawarah.
“Santri bukan hanya yang mondok, tapi yang hidupnya bersanad.” –
Saat kita mulai merasa lebih nyaman dengan teori ketimbang praktik, dengan cepatnya informasi tanpa kedalaman, saat itulah kita harus merenung. Kitab-kitab itu—yang sering kali kita biarkan menumpuk di lemari—adalah lebih dari sekadar buku. Mereka adalah hidup yang membimbing, jembatan yang menghubungkan kita dengan generasi ulama yang jauh lebih mulia. Jangan biarkan diri kita terbuai oleh ketenaran viral, karena ketenaran yang sesungguhnya ada dalam keberkahan ilmu yang terus hidup dan diteruskan, dari guru ke murid, dari sanad ke sanad. Jangan biarkan kitab itu terlupakan hanya karena kita tergoda oleh gemerlap dunia maya. Ilmu yang sesungguhnya tak akan pernah lelah mengajarkan kita tentang kebijaksanaan, kesederhanaan, dan ketulusan dalam menuntut ilmu. Mari kita hidupkan kitab, hidupkan ulama, dan hidupkan sanad, supaya kita benar-benar merasakan makna kehidupan yang sejati.
- Borong Gelar Juara, Santri Andalusia Dominasi Olimpiade Bahasa Arab 2026 Tingkat Kabupaten Banyumas
BANYUMAS – Delegasi santri dari Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia Kebasen sukses mengukir prestasi gemilang dalam ajang Olimpiade Bahasa Arab (OBA) ke-9 Tingkat Kabupaten Banyumas Tahun 2026. Berdasarkan surat… - Kenalkan Tradisi Literasi Pesantren, Mahasantri Ma’had Aly Andalusia Berikan Buku kepada Tokoh dan Ulama Nasional
Banyumas – Di sela rangkaian Harlah dan Haflah Akhirussanah ke-13 Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia, Mahasantri Ma’had Aly Andalusia kembali menorehkan langkah penting dalam ikhtiar memperkenalkan tradisi literasi pesantren.… - Dari Pesantren ke Panggung Literasi Nasional: Mahasantri Ma’had Aly Andalusia Bedah Buku di BIL Fest 2026
PURWOKERTO – Kabar membanggakan kembali datang dari Ma’had Aly Andalusia. Dalam gelaran Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest) 2026 yang berlangsung di Hetero Space Purwokerto, Selasa (16/6/2026), salah satu mahasantri… - Selamat atas Vonis Anda Hari Ini, Sampai Jumpa di Pengadilan yang Tak Bisa Disuap
Dahulu, sebelum mengutus Mu’adz bin Jabal sebagai hakim ke Yaman, Rasulullah ﷺ menguji kesiapan beliau dalam memutuskan suatu perkara. Dengan tegas, Mu’adz menyatakan akan bersandar pada Al-Qur’an, Sunnah, dan ijtihad… - UKM Jurnalistik dan Literasi Andalusia Cetak Karya Kedua, Buku Tafsir 234 Halaman Resmi Terbit
Banyumas, 4 Juni 2026 — UKM Jurnalistik dan Literasi Ma’had Aly Andalusia kembali menorehkan prestasi di bidang literasi dengan menerbitkan buku ber-ISBN kedua berjudul Meniti Jembatan Tafsir: Antologi Artikel Tafsir…
Berita Terkini Seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas !!!
Dapatkan update terbaru dan informasi menarik lainnya seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas hanya di website resmi kami: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan berbagai artikel yang inspiratif dan bermanfaat tentang kehidupan akademik, program pendidikan, kegiatan santri, dan berbagai info penting lainnya. Segera kunjungi situs official Ma’had Aly Andalusia untuk memperluas wawasan dan mengikuti perkembangan terbaru yang kami sajikan khusus untuk Anda!
follow Media Sosial