Suara tabuhan rebana menyambut hangat siapa pun yang mendekatinya. Semerbak bukhur menguar di antara para santri yang ada di dalam aula. Malam itu, bukan hanya peringatan di tanggal Hijriah semata, melainkan sebuah temu rindu kepada figur mulia Nabi Muhammad saw. dan ulama yang telah wafat mendahului kita.
Pada malam Jum’at (4/9/2026) Pondok pesantren At-taujieh 2 Andalusia melaksanakan perayaan Maulid Nabi yang bertepatan juga dengan Haul pendiri pondok KH. Hisyam Zuhdi.
Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua Yayasan Al Anwar Al Hisyamiyyah, yaitu Bapak Sunarto Arief, dilanjutkan dengan pembacaan tahlil oleh K.H. Ibnu Mu’thi selaku Pengasuh Pondok Pesantren Al Amien Pabuwaran Purwokerto, serta pembacaan maulid dan mahalul qiyam.
Pembacaan Maulid Al-Barzanji karangan Syekh Sayyid Ja’far bin Hasan Abdil Kariim Al-Barzanji membawa kita ke perasaan spiritual yang lebih dalam. Rekonstruksi sirah nabawiah yang sangat puitis dari segi balagah dan sastranya membawa kita untuk menelusuri perjalanan hidup Rasulullah saw., mulai dari silsilah suci (nasab), masa kecil Nabi, hingga diutusnya Beliau menjadi seorang nabi.
Mahalul qiyam menjadi puncak emosional dari acara ini. Semua orang berdiri melantunkan syair-syair pujian sebagai bentuk penghormatan dan rasa cinta mendalam kepada Rasulullah saw., mengharap syafaat, dan menghadirkan Beliau selalu di hati kita semua.
Suasana hening dan khidmat kian melekat ketika Pengasuh Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia memulai kalimat mutiara yang sangat berharga. Beliau menyampaikan untaian kata yang mengarahkan kita semua agar meneladani akhlak Rasulullah saw. Acara maulid kali ini bertepatan dengan peringatan haul ke-33 Al-Mukarrom K.H. Hisyam Zuhdi.
Figur K.H. Hisyam Zuhdi bukanlah sosok baru di telinga kita, terutama santri Andalusia. Beliau merupakan ayah dari K.H. Zuhrul Anam Hisyam sekaligus kiai yang sangat terkenal dengan ilmu dan karomahnya.
”Walaupun anak seorang petani, kalau sungguh-sungguh pasti jadi kiai. Dan walaupun anak kiai sekalipun, kalau tidak mengaji pasti bento.” Kalimat singkat dari Gus Anam yang menyadarkan kita semua bahwa belajar dan menuntut ilmu tidak mengenal nasab.
Gelak tawa ringan dan obrolan hangat kembali hidup di sela mauidhah hasanah beliau. Doa yang dipanjatkan oleh K.H. Sumedi menutup rangkaian malam pembacaan Barzanji. Peringatan pada malam hari ini bukan sekadar sebagai ritual keagamaan yang kaku, melainkan sebagai perayaan cinta, kebersamaan, dan ketenteraman jiwa yang senantiasa dinantikan.
Oleh: Aminah
