Kita sering mendengar istilah personal branding yang sedang viral belakangan ini, dengan menunjukan sisi positif yang dimiliki seseorang melalui berbagai ranah media sosial. Jika dilihat dari kacamata Agama Islam, fenomena ini tentu saja menimbulkan pro dan kontra di masyarakat, bahkan ada yang berstatment cukup miring “membangun personal branding di media sosial tidak lain adalah ria yang dipertontonkan kepada khalayak ramai”. Benarkah membangun personal branding di media sosial merupakan bagian perilaku ria yang dilarang oleh Agama Islam?, mari kita ulik bersama!
Dalam buku yang ditulis oleh Tom Hancock pada tahun 2011, Personal branding adalah “tindakan agensi di mana individu secara aktif sadar atau tidak sadar menampilkan identitas dirinya kepada orang lain, baik perseorangan ataupun khalayak ramai. Personal branding mengacu pada proses yang digunakan individu untuk mengembangkan dan memasarkan diri mereka kepada orang lain”. Dengan menggunakan media sosial, informasi digabungkan dan disajikan dalam sistem pertukaran informasi di mana identitas diciptakan dan dikonsumsi oleh audiens online. Dari pengertian tersebut dapat kita simpulkan bahwa membangun personal branding di media sosial merupakan “perilaku seseorang yang memperlihatkan sisi positif dirinya kepada orang lain, baik dilakukan secara sadar ataupun tidak, melalui fasilitas media sosial, seperti wa, instagram, tik-tok dll”.
Adapun yang dimaksud ria menurut kacamata Agama Islam adalah : dalam bahasa Arab, arriya’ ( الرياء ) berasal dari kata kerja raâ ( رأى ) yang bermakna memperlihatkan. Riya’ merupakan memperlihatkan sekaligus memperbagus suatu amal ibadah dengan tujuan agar diperhatikan dan mendapat pujian dari orang lain, perbuatan ini termasuk Riya’ karena meniatkan ibadah selain kepada Allah SWT.
Syaikh Muhammad Jamaludin Al-Qosimi dalam buku “Ma’idhotul Mukminin ‘Ala Ihya ‘Ulumudin” juga menjelaskan : ”Ria adalah melakukan suatu amal dengan niat mencari kedudukan dan popularitas pada hati orang lain, dan bukan karena Allah Swt”. Adapun tujuan dari ria itu sendiri sebagaimana yang diterangkan oleh Syaikh Ibnu Baz : ”supaya amalnya dilihat oleh orang lain, kemudian memberikan pujian kepada dirinya”. عمل قلبي Dari sejumlah literatur yang telah disebutkan, dapat kita simpulkan sifat ria merupakan amal keburukan di dalam hati dan bukan amal yang nampak secara kasatmata.
Secara garis besar dapat kita simpulkan sifat ria merupakan amal keburukan bersifat hati yang membersamai amal kebaikan seseorang. Setiap sifat ria ada pada kebaikan, dan tetapi tidak semua kebaikan mengandung sifat ria. Alhasil membangun personal branding di media sosial bisa saja bagian ria jika diniatkan untuk mencari pujian orang lain, tetapi mungkin saja bukan bagian sifat ria jika diniati dengan kebaikan, seperti memotivasi orang lain dalam kebaikan, menyiarkan ilmu-ilmu agama, membantah statement yang merugikan masyarakat, maka membangun personal branding dengan niat seperti itu bukanlah bagian dari ria tetapi bagian استباق في الخيرات “berlomba-lomba menebarkan kebaikan”.
Wallahu A’lam
Penulis : Umar Toyyib Ubaidilah
