BANYUMAS — Suasana di Pondok Pesantren Attaujieh Al Islamy Leler, Desa Randegan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terasa tak seperti biasanya,hari yang meriah pada Sabtu (5/9/2026). Kegiatan pada hari Sabtu ini merupakan bagian utama dari rangkaian perayaan Haflah Pondok Pesantren Attaujieh Al Islamy ke-113 dan Haul Mbah Hisyam Zuhdi ke-33 yang berlangsung dari Jumat pagi hingga Malam senin. Acara yang memadukan kegiatan keagamaan, budaya, dan pasar murah ini sukses dihadiri oleh ribuan pengunjung.
Rangkaian acara pada hari Sabtu diawali dari pagi hingga siang hari dengan agenda Bahtsul Masail yang diikuti oleh para santri tingkatan Jalsah Ula dan Jalsah Tsani. Memasuki sore hingga malam hari, acara berlanjut dengan karnaval budaya dan khitanan massal. Warga setempat sangat antusias meramaikan suasana, terutama saat menyaksikan pertunjukan obor dan rombongan peserta khitan massal di depan kompleks Pondok Putri.
Selain acara keagamaan dan tradisi, pihak panitia juga membuka bazar UMKM yang beroperasi sepanjang rangkaian acara. Bazar ini diisi oleh berbagai stan, mulai dari aneka makanan, pakaian, aksesori, pameran produk lokal, hingga stan bedah buku. Kehadiran bazar ini menjadi lokasi favorit bagi warga sekitar dan para santri dari Pondok Pesantren attaujieh yang datang berkunjung.
Pada Sabtu malam, acara dilanjutkan dengan pertunjukan Pagelaran Wayang Santri. Pentas seni tradisi ini dibawakan oleh dua dalang, yaitu Ki K.R.T. Yakut Jedher dan Bagas Anggoro. Bagas Anggoro sendiri merupakan seorang dalang cilik yang merupakan santri Pesantren Leler dan saat ini masih duduk di kelas 6 sekolah dasar.

Pertunjukan wayang tersebut dihadiri langsung oleh keluarga ndalem (pengasuh pesantren), yaitu Ibu Hj. Tsumanah Hisyam beserta putra-putrinya: Gus Ahmad Hadidul Fahmi, Ning Hadodatu Shofro, dan Ning Hanim Najila, serta dihadiri tokoh masyarakat dan ratusan penonton. Cerita yang dibawakan berfokus pada pentingnya menjaga tata krama kepada guru dan rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Walaupun dikemas secara sederhana, nasihat dan ilmu yang disampaikan terasa sangat cocok dengan kehidupan sehari-hari.
“Selain dalangnya tampan, materi yang dibawakan juga sangat mantap dan mudah dipahami,” ujar Slamet (42), salah seorang warga setempat yang ikut menonton pagelaran tersebut sambil tersenyum.
Sebelum masuk ke lokasi area pertunjukan wayang santri, para pengunjung terlebih dahulu melewati area bazar untuk menikmati ragam makanan dan pakaian. Momen kemeriahan ini dimanfaatkan oleh para santri dan warga untuk berbelanja makanan, buku, aksesori, hingga pakaian baru.
Bagi para santri, hadirnya bazar makanan ini memberikan kebahagiaan tersendiri di sela-sela kegiatan belajar mereka.

“Bazar ini seperti surga dunianya para santri karena pilihan makanannya banyak sekali. Hati jadi senang dan rasanya seperti ‘tertipu daya’ untuk terus mencoba jajanan yang ada,” ujar Meisya (18), salah satu santriwati yang meramaikan area bazar tersebut.
Penulis: Anisa Istiqomah (Reporter Kompas Walimah)
