Di ujung lorong Zawiyah Ma’had Aly Andalusia, berdiri sebuah jendela .
Catnya telah pudar, kayunya berderit bila disentuh, dan debu tipis kadang menempel di kisi-kisinya.
Tapi dari sanalah, tanpa paspor, tanpa tiket, aku membaca dunia — dunia yang berbeda dari apa yang dikabarkan layar-layar kaca.
Pagi-pagi buta, saat dunia luar masih terhuyung dalam kantuk dan kegelisahan, aku menyaksikan dunia lahir kembali lewat celah jendela itu. Burung-burung kecil bertarung nyaring di pucuk dahan, kabut menggantung rendah seperti tirai putih, dan mentari perlahan-lahan membuka matanya di balik bukit. Semesta mengajariku satu hal sederhana: bahwa setiap hari adalah kesempatan baru — bukan untuk berlari lebih cepat, tapi untuk mengerti lebih dalam.
Sementara itu, di luar sana, dunia sudah sesak oleh kebisingan. Jalanan macet dengan suara klakson dan umpatan.
Orang-orang berwajah kaku memandangi ponsel mereka, tergesa-gesa menjemput janji yang bahkan kadang tak pernah mereka janjikan pada diri sendiri. Dunia luar dipenuhi pelarian: dari tekanan, dari kesepian, dari rasa hampa yang tak mampu diobati dengan belanja atau hiburan.

Dari balik jendela ini, aku melihat dunia berbeda. Bukan dunia yang riuh oleh ambisi, tapi dunia kecil yang hening, tempat kitab-kitab usang lebih berharga daripada saham; tempat hafalan yang gagap lebih berarti daripada retweet ribuan kali. Aku melihat teman-temanku bergegas menuju halaqah, membawa kantuk, membawa rindu, membawa harapan yang dikepalkan erat dalam genggaman doa.
Di luar sana, dunia mengajarkan bahwa keberhasilan harus diraih dengan kecepatan, dengan gelar, dengan angka-angka yang tercetak di selembar kertas. Di sini, di balik jendela ini, aku diajari bahwa keberhasilan bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling sabar. Bukan tentang siapa yang paling banyak memiliki, tapi siapa yang paling banyak memberi. Bukan tentang siapa yang paling sering dipuji, tapi siapa yang tetap teguh meski tak dilihat.
Malam-malam di luar sana benderang oleh pesta, gelak tawa buatan, dan lagu-lagu keras yang memekakkan telinga. Sementara malam di sini hanya ditemani oleh gemuruh dzikir pelan, langkah kaki menuju aula, dan bintang-bintang yang lebih setia daripada janji manusia. Di luar sana, semua berjalan cepat: cinta cepat, karir cepat, sukses cepat, rusak cepat. Di sini, semuanya tumbuh perlahan, diam-diam, sepi-sepi, kuat-kuat.
Aku menyaksikan dunia berdesak-desakan untuk sekedar diakui, memamerkan segala yang bisa dipamerkan.
Sedang di sini, di balik jendela tua ini, kami belajar merunduk, menunduk, membiarkan doa-doa menguatkan langkah kami — meski tak pernah diunggah ke mana-mana. Lewat jendela itu, aku tahu: dunia luar bisa sangat memukau, tapi juga menipu. Ia bisa gemerlap, tapi kosong. Bersuara nyaring, tapi kehilangan makna.
Dan aku bersyukur, karena dari jendela sederhana ini, aku diberi kesempatan untuk membaca dunia dengan cara yang lebih sunyi, lebih dalam, lebih jujur. Jangan remehkan jendela tua ini.
Karena dari celah-celahnya, aku menemukan dunia yang sesungguhnya: dunia yang tidak sekadar mengejar bayangan, tapi dunia yang mencari makna. Masih percaya dunia hanya seputar apa yang ramai di luar sana?
Baca selengkapnya, dan temukan dunia yang lebih utuh — dari balik sebuah jendela sederhana.
- Dalami Sastra Arab, Mahasantri Sanah 2 Ma’had Aly Andalusia Presentasikan Kisah Dari Kitab Kalilah wa Dimnah
Banyumas — Dalam rangka memperdalam kemampuan bahasa dan sastra Arab serta mengestafetkan pendalaman terhadap kitab turats atau yang biasa disebut kitab kuning, mahasantri Sanah 2 Ma’had Aly Andalusia memperdalam hal… - Keberkahan Haul Mbah Hisyam Zuhdie Ke-33, Menjadi Daya Tarik Masyarakat
BANYUMAS — Suasana di Pondok Pesantren Attaujieh Al Islamy Leler, Desa Randegan, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terasa tak seperti biasanya,hari yang meriah pada Sabtu (5/9/2026). Kegiatan pada hari… - Momentum Pengingat Jiwa dalam Khidmatnya Perayaan Maulid dan Haul Ke 33 KH. Hisyam Zuhdie
Suara tabuhan rebana menyambut hangat siapa pun yang mendekatinya. Semerbak bukhur menguar di antara para santri yang ada di dalam aula. Malam itu, bukan hanya peringatan di tanggal Hijriah semata,… - Menjemput Indonesia Emas dengan 10 Mindset Qur’ani
BANYUMAS – UKM Jurnalistik & Literasi Ma’had Aly Andalusia menggelar Bedah Kitab Al-Arba’in Al-Qur’aniyyah pada Sabtu (29/8/2026) di Auditorium Ma’had Aly Andalusia, Leler, Banyumas. Tepat seusai jam istirahat, kegiatan tersebut… - Catatan dari Kursi Audiens: Mengurai 10 Mindset Qur’ani untuk Indonesia Emas 2045
Banyumas – Suasana Auditorium Ma’had Aly Andalusia terasa begitu khidmat sekaligus membakar semangat para peserta yang hadir dalam agenda Bedah Kitab Al-Arba’in Al-Qur’aniyyah. Acara ini menghadirkan narasumber utama Ustadz Ishom…
Berita Terkini Seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas !!!
Dapatkan update terbaru dan informasi menarik lainnya seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas hanya di website resmi kami: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan berbagai artikel yang inspiratif dan bermanfaat tentang kehidupan akademik, program pendidikan, kegiatan santri, dan berbagai info penting lainnya. Segera kunjungi situs official Ma’had Aly Andalusia untuk memperluas wawasan dan mengikuti perkembangan terbaru yang kami sajikan khusus untuk Anda!
follow Media Sosial





