Setelah Nabi Musa menyanggupi untuk belajar dengan Nabi khidir. Maka Nabi Khidir menyertakan syarat untuk belajar kepadanya:
QS. Al-Kahf: Ayat 70
قَالَ فَاِنِ اتَّبَعْتَنِيْ فَلَا تَسْـَٔلْنِيْ عَنْ شَيْءٍ حَتّٰٓى اُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا
(Nabi khidir) berkata, “Jika engkau mengikutiku, janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang apa pun sampai aku menerangkannya kepadamu.”
Yakni aku akan menyebutkan kepadamu alasan/sebab (di balik perbuatan tersebut).Maka Nabi Musa menerima syarat tersebut demi menjaga adab seorang murid terhadap gurunya.
Perjalanan Bersama Nabi Khidir
Permulaan perjalanan ini disebutkan pada QS. Al-Kahfi: Ayat 71
فَانْطَلَقَا
Maka berangkatalah keduanya
Yakni bersama mereka berdua ada Yusya’ (bin Nun). Adapun beliau tidak disebutkan dalam ayat karena kedudukannya sebagai pengikut (tabi’), sedangkan tujuan utamanya adalah penyebutan Musa dan Khidir.
Kemudian keduanya berjalan di tepi pantai. Mereka sedang mencari kapal, lalu mereka menemukan sebuah kapal dan menaikinya. Maka para awak kapal berkata: “Mereka ini adalah pencuri,” karena mereka melihat keduanya naik tanpa membawa perbekalan maupun barang bawaan.
Namun pemilik kapal berkata: “Mereka bukan pencuri, melainkan aku melihat wajah-wajah para Nabi pada diri mereka.”
Diriwayatkan:
وَعَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ : مَرَّتْ بِهِمْ سَفِينَةٌ، فَكَلَّمُوا أَهْلَهَا أَنْ يَحْمِلُوهُمْ، فَعَرَفُوا الْخَضِرَ بِعَلَامَةٍ، فَحَمَلُوهُمْ بِغَيْرِ نَوْلٍ
Dari Ubay bin Ka’ab, dari Nabi ﷺ: “Sebuah kapal melintasi mereka, lalu mereka berbicara kepada awak kapal agar bersedia mengangkut mereka. Maka para awak kapal mengenali Khidir melalui suatu tanda, lalu mereka mengangkut keduanya tanpa naul yaitu tanpa bayaran (imbalan).”
Kemudian disebutkan pada lanjutan ayat
حَتَّى إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِيْنَةِ خَرَقَهَا
hingga ketika menaiki perahu, dia (khidir) melubanginya.
Yaitu dengan cara mencabut satu atau dua keping papan kapal tersebut dari sisi yang bersentuhan dengan air laut menggunakan kapak, saat kapal telah sampai di tengah lautan yang dalam (lujaj).
Kemudian dilanjutan ayat nya
قَالَ اَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ اَهْلَهَاۚ لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا اِمْرًا
Dia (Nabi Musa) berkata, “Apakah engkau melubanginya untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah berbuat suatu kesalahan yang besar.”
Diriwayatkan: Bahwa air tidak masuk ke dalam kapal tersebut, dan ada yang berpendapat: Bahwa Musa ketika melihat hal itu (Khidir melubangi kapal), beliau segera mengambil pakaiannya lalu menyumbatkannya ke dalam lubang tersebut.
Maka Nabi khidir menjawab pertanyaan Nabi Musa:
اَلَمْ اَقُلْ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا
“Bukankah sudah aku katakan bahwa sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku?”
Kemudian Nabi Musa berkata:
لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ
“Janganlah engkau menghukumku (menyalahkanku) karena kelalaianku (atas apa yang aku lupakan).”
Yakni: Aku telah lalai untuk bersikap taslim (pasrah/menerima) kepadamu dan lalai untuk menahan diri dari mengingkari perbuatanmu.
وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا
“Dan janganlah engkau membebani aku dengan kesulitan dalam urusanku.”
Yakni kesulitan dalam perjalananku bersamamu. Maksudnya: Perlakukanlah aku dengan pemaafan dan kemudahan (dalam hal tersebut).
Bertemunya mereka dengan seorang anak bernama Syam’un
Setelah mereka turun dari kapal dan berjalan beberapa saat. Mereka bertemu dengan seorang anak (yang diriwayatkan) bernama Syam’un (شمعون). Usia nya belum sampai baligh, ia sedang bermain bersama anak-anak sebanyanya (jumlah mereka 10 orang), dan ia adalah yang paling tampan wajahnya di antara mereka.
Maka Nabi Khidir membunuhnya dengan cara menyembelihnya dengan pisau dalam keadaan berbaring, atau mencabut kepalanya dengan tangannya, atau membenturkan kepalanya ke tembok; ini adalah beberapa pendapat (mengenai cara pembunuhannya).
Nabi Musa berkata kepadanya:
أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُكْرًا [الكهف: 74]
“Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan suatu perbuatan yang sangat mungkar.”
Kemudian Nabi Khidir pun membalas :
أَلَمْ أَقُلْ لَكَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا [الكهف: 75]
“Bukankah sudah aku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku?”
Nabi Khidir menambahkan kata لك (Kepadamu) dibandingkan ucapan sebelumnya, dikarenakan sudah tidak ada lagi alasan (pemaafan) di sini.
Nabi musa berkata:
إِن سَأَلْتُكَ عَن شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي قَدْ بَلَغْتَ مِن لَّدُنِي عُذْرًا [الكهف: 76].
“Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu. Sungguh, engkau telah cukup mendapatkan alasan dariku (untuk tidak lagi menyertakan aku dalam perjalanan ini).” (Hasyiyah Ashowi , 4/171)
Berlanjut di artikel selanjutnya
Penulis: Mujiburrohman
Sumber rujukan:
حاشية العلامة الصاوي على تفسير الجلالين
الشيخ أحمد بن محمد الصاوي الخلوتي (١١٧٥ ١٢٤١٠هـ)
(دار تحقيق الكتاب)
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial