Banyumas — Dalam rangka memperdalam kemampuan bahasa dan sastra Arab serta mengestafetkan pendalaman terhadap kitab turats atau yang biasa disebut kitab kuning, mahasantri Sanah 2 Ma’had Aly Andalusia memperdalam hal tersebut melalui kegiatan presentasi pada mata kuliah Maharotul Qirā’ah yang diampu oleh Ustadz Lutfi Fauzan ‘Adzima dan Ustadz Wahid Mubarok. Tugas ini berupa penyusunan dan pemaparan PowerPoint dari ibarāt kitab sastra legendaris Kalilah wa Dimnah. Setiap kelompok terdiri dari lima orang dan tampil secara bergiliran, dimulai dari kelompok putra dan pada pertemuan selanjutnya dilanjutkan oleh kelompok putri.
Pada Sabtu, 5 September 2026, kelompok terakhir dari mahasantri putra mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan salah satu cerita yang terdapat dalam kitab Kalilah wa Dimnah dengan judul qiṣṣah الجرذ والسنور, yaitu cerita tentang seekor tikus dan kucing. Sebelum masuk pada inti cerita, kelompok tersebut terlebih dahulu melakukan taḥlīl terhadap kosakata-kosakata asing yang terdapat dalam teks. Setelah itu, mereka memperkenalkan tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerita dan menyampaikan kisah tersebut secara runtut, mulai dari awal hingga akhir.
Kalilah wa Dimnah sendiri merupakan salah satu karya sastra legendaris yang bergenre fabel dan berasal dari tradisi cerita Sanskerta. Karya tersebut kemudian diterjemahkan dan diadaptasi ke dalam bahasa Arab oleh sastrawan era Abbasiyah, Abdullah bin al-Muqaffa‘, sekitar abad ke-8 Masehi dari naskah berbahasa Pahlavi atau Persia. Hingga kini, Kalilah wa Dimnah dikenal sebagai salah satu karya penting dalam khazanah sastra Arab yang tidak hanya menghadirkan cerita menarik, tetapi juga menyimpan berbagai hikmah dan pelajaran kehidupan.
Dalam pemaparannya, kelompok tersebut menjelaskan cerita secara bergantian pada setiap paragraf. Penyampaian dimulai dari penjelasan kosakata, pengenalan tokoh, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan alur cerita hingga selesai. Kisah الجرذ والسنور yang menceritakan hubungan antara seekor tikus dan kucing tersebut memberikan kesan tersendiri bagi para mahasantri. Di balik kisah yang sederhana, terdapat berbagai pelajaran kehidupan yang menarik untuk dipahami, khususnya mengenai hubungan, kecerdikan, kehati-hatian, dan bagaimana seseorang mengambil sikap dalam menghadapi suatu keadaan.
Kelompok tersebut beranggotakan Ahmad Mahbub Atoillah, Diras Ananta Bakhtiar, Fauzan Alfatih, Rojissalam, dan Mahib Ramadan. Kelima mahasantri tersebut tampil secara bergantian dalam menjelaskan isi cerita pada setiap paragraf, sehingga presentasi berlangsung secara terstruktur dan memberikan kesempatan kepada setiap anggota untuk berperan aktif dalam menyampaikan materi.
Ustadz Lutfi Fauzan ‘Adzima selaku salah satu pengampu mata kuliah memberikan apresiasi yang sangat luar biasa kepada kelompok tersebut atas pemaparan yang telah dilakukan. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan presentasi bukan sekadar menjadi sarana untuk menyampaikan materi, tetapi juga menjadi latihan bagi para mahasantri untuk mengembangkan kreativitas dan berpikiran luas.
Melalui kegiatan ini, para mahasantri tidak hanya dituntut untuk memahami teks turats secara mendalam, tetapi juga belajar bagaimana menyampaikan kandungan teks tersebut kepada orang lain dengan bahasa yang mudah dipahami. Kemampuan membaca, memahami, menerjemahkan, menganalisis, dan mempresentasikan teks menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran Maharotul Qirā’ah.
Kegiatan presentasi ini diharapkan dapat terus menjadi sarana bagi mahasantri Ma’had Aly Andalusia dalam memperdalam khazanah bahasa dan sastra Arab, sekaligus meningkatkan kemampuan mereka dalam memahami kitab turats. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu menumbuhkan kreativitas, keberanian berbicara di depan umum, serta kemampuan berpikir luas yang nantinya dapat bermanfaat dalam kehidupan akademik maupun ketika terjun langsung di tengah masyarakat.
GALERI



