Beberapa tahun belakangan, berita tentang perundungan di pesantren semakin sering muncul di media. Kasus demi kasus diberitakan dengan nada yang hampir sama: seorang santri mengalami kekerasan, ada keterlibatan senior, pihak pesantren dianggap lalai, lalu simpulan umum muncul, pesantren tempat yang kejam!
Jika melihat dari satu sudut pandang, narasi ini memang tampak masuk akal. Pesantren adalah lingkungan yang tertutup, ada sistem senioritas, kehidupan santri diatur dengan disiplin ketat, dan kadang ada metode pendidikan yang tidak selalu sejalan dengan pola asuh modern ala parenting digital. Namun, apakah ini berarti pesantren identik dengan perundungan?



Mari kita buka lembaran fakta
Statistik dan Konteks: Pesantren Dibandingkan dengan Sekolah Umum
Dalam laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2022, tercatat bahwa kasus kekerasan terhadap anak dalam konteks pendidikan mencapai lebih dari 2.500 kasus dalam setahun. Dari angka itu, sebagian besar terjadi di sekolah umum, bukan di pesantren. Namun, mengapa ketika kasus di pesantren muncul, gaungnya jauh lebih besar?
Salah satu faktornya adalah eksklusivitas pesantren. Jika ada satu kasus kekerasan di sekolah negeri, itu hanya dianggap sebagai masalah individu. Tapi jika terjadi di pesantren, langsung melebar menjadi “sistemik.” Media dengan cepat menggiring opini bahwa ini adalah pola yang terstruktur, seakan-akan semua pesantren memiliki budaya kekerasan.
Padahal, pesantren dengan jumlah santri ribuan tetap memiliki angka kasus yang jauh lebih rendah dibandingkan sekolah-sekolah umum. Jika kita mau jujur, dunia pendidikan secara keseluruhan masih bergulat dengan isu perundungan—entah itu di sekolah negeri, swasta, internasional, bahkan universitas bergengsi.
Senioritas atau Perundungan?
Salah satu poin yang sering diangkat adalah sistem senioritas di pesantren yang dianggap sebagai akar dari perundungan. Memang benar, ada tradisi “senior-junior” di banyak pesantren. Santri senior punya tugas membimbing juniornya, baik dalam ibadah, disiplin, maupun keseharian di asrama.
Namun, apakah ini sama dengan perundungan? Tidak juga.
Di pesantren, senioritas lebih sering berbentuk “tanggung jawab” ketimbang “penindasan.” Banyak santri senior yang justru berperan sebagai pengganti orang tua bagi adik-adiknya. Mereka yang mengajarkan bagaimana mengaji, menata kamar, bahkan menghibur junior yang masih homesick. Kalau ada satu-dua oknum yang menyalahgunakan posisi ini, itu lebih tepat disebut sebagai penyimpangan, bukan sistem pesantren secara keseluruhan.
Bayangkan begini: seorang kakak membimbing adiknya mengaji, menyuruhnya bangun lebih pagi untuk shalat, atau mengajarkan cara bertata krama di lingkungan pesantren. Itu pendidikan karakter. Tapi kalau ada oknum yang main tangan atau melakukan intimidasi, itu sudah masuk ranah pelanggaran, dan banyak pesantren yang tegas dalam menangani hal ini.
Dakwah di Era Clickbait
Fenomena media saat ini menarik. Judul berita harus dramatis agar menarik klik. “Santri Dianiaya Senior, Meninggal Dunia.” Tentu, ini berita tragis. Tapi bagaimana dengan judul semacam ini: “Ribuan Santri Menjadi Hafiz dalam Sistem Pendidikan Pesantren”? Jarang sekali ada yang menulis seperti ini.


Media lebih menyukai cerita yang kontroversial karena lebih banyak pembaca. Apalagi, pesantren adalah institusi yang sering dikaitkan dengan konservatisme dan kearifan lokal—dua hal yang dalam dunia modern seringkali dianggap kurang progresif.
Maka tak heran, ketika satu kasus perundungan terjadi di pesantren, framing yang muncul adalah: “Pesantren Harus Dievaluasi,” “Sistem Pendidikan Islam Tradisional Bermasalah,” atau bahkan “Perlukah Pesantren Diregulasi Ketat?”Padahal, jika melihat kasus serupa di sekolah umum, narasi yang muncul lebih netral: “Kasus Perundungan di Sekolah X, Pihak Sekolah Berjanji Mengevaluasi.” Bedanya? Pada pesantren, yang dikritik adalah sistemnya secara keseluruhan.
Solusi Nyata, Bukan Stigma Murahan
Pesantren, sebagaimana lembaga pendidikan lain, tidak sempurna. Tidak ada yang menyangkal bahwa ada kasus perundungan yang harus ditindak. Namun, solusi tidak bisa hanya sebatas menghakimi pesantren secara membabi buta. Menggeneralisasi bahwa pesantren identik dengan perundungan adalah sebuah kemalasan berpikir. Jika satu pesantren ada masalah, bukan berarti seluruh sistemnya harus dicap buruk.
Pesantren telah menjadi benteng moral bangsa selama berabad-abad. Ia melahirkan ulama, cendekiawan, bahkan pemimpin nasional. Tentu, evaluasi tetap perlu. Namun, evaluasi yang berbasis fakta dan solusi, bukan sekadar tuduhan yang hanya memperkeruh suasana. Sebab jika pesantren benar-benar identik dengan kekerasan, mengapa ribuan orang masih berlomba-lomba memasukkan anak-anaknya ke sana? Jawabannya jelas: karena pesantren tetap tempat terbaik untuk menempa ilmu dan karakter.
Jadi, sebelum menilai, mari lihat dengan lebih jernih. Sebab, terkadang yang terlihat di layar media bukan selalu yang sebenarnya.
oleh : Hisyam Abdillah
- Borong Gelar Juara, Santri Andalusia Dominasi Olimpiade Bahasa Arab 2026 Tingkat Kabupaten Banyumas
BANYUMAS – Delegasi santri dari Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia Kebasen sukses mengukir prestasi gemilang dalam ajang Olimpiade Bahasa Arab (OBA) ke-9 Tingkat Kabupaten Banyumas Tahun 2026. Berdasarkan surat… - Kenalkan Tradisi Literasi Pesantren, Mahasantri Ma’had Aly Andalusia Berikan Buku kepada Tokoh dan Ulama Nasional
Banyumas – Di sela rangkaian Harlah dan Haflah Akhirussanah ke-13 Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia, Mahasantri Ma’had Aly Andalusia kembali menorehkan langkah penting dalam ikhtiar memperkenalkan tradisi literasi pesantren.… - Dari Pesantren ke Panggung Literasi Nasional: Mahasantri Ma’had Aly Andalusia Bedah Buku di BIL Fest 2026
PURWOKERTO – Kabar membanggakan kembali datang dari Ma’had Aly Andalusia. Dalam gelaran Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest) 2026 yang berlangsung di Hetero Space Purwokerto, Selasa (16/6/2026), salah satu mahasantri… - Selamat atas Vonis Anda Hari Ini, Sampai Jumpa di Pengadilan yang Tak Bisa Disuap
Dahulu, sebelum mengutus Mu’adz bin Jabal sebagai hakim ke Yaman, Rasulullah ﷺ menguji kesiapan beliau dalam memutuskan suatu perkara. Dengan tegas, Mu’adz menyatakan akan bersandar pada Al-Qur’an, Sunnah, dan ijtihad… - UKM Jurnalistik dan Literasi Andalusia Cetak Karya Kedua, Buku Tafsir 234 Halaman Resmi Terbit
Banyumas, 4 Juni 2026 — UKM Jurnalistik dan Literasi Ma’had Aly Andalusia kembali menorehkan prestasi di bidang literasi dengan menerbitkan buku ber-ISBN kedua berjudul Meniti Jembatan Tafsir: Antologi Artikel Tafsir…
Berita Terkini Seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas !!!
Dapatkan update terbaru dan informasi menarik lainnya seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas hanya di website resmi kami: maalyandalusia.ac.id.
Temukan berbagai artikel yang inspiratif dan bermanfaat tentang kehidupan akademik, program pendidikan, kegiatan santri, dan berbagai info penting lainnya. Segera kunjungi situs official Ma’had Aly Andalusia untuk memperluas wawasan dan mengikuti perkembangan terbaru yang kami sajikan khusus untuk Anda!
#santrilelermendunia #ponpesattaujieh2