Banyumas, 13 Agustus 2026 — Media Ma’had Aly Andalusia kembali melanjutkan program kreatifnya melalui Podcast Episode 10 yang dilaksanakan pada Kamis (13/08/2026) sekitar pukul 21.00 WIB di Perpustakaan Gedung Ma’had Aly Andalusia lantai 2. Pada episode kali ini, Media Ma’had Aly Andalusia menghadirkan dua sosok yang tengah mengemban amanah baru sebagai lurah Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia, yakni A’wan Asyrof selaku Ketua Umum dan Khanifuddin selaku Ketua II. Keduanya merupakan alumni yang tumbuh dan menempuh pendidikan di Andalusia, masing-masing dari Angkatan 1 dan Angkatan 3. Podcast dipandu oleh Eka Prasetya sebagai host.
Episode kali ini menjadi perbincangan yang cukup istimewa. Bukan hanya karena membahas wajah baru kepemimpinan pondok, tetapi juga karena untuk pertama kalinya Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia memiliki lurah yang lahir dan tumbuh dari lingkungan Andalusia sendiri. A’wan Asyrof merupakan bagian dari generasi awal Andalusia yang menempuh perjalanan pendidikan sejak jenjang SMP hingga perguruan tinggi di lingkungan yang sama. Sementara Khanifuddin merupakan bagian dari generasi berikutnya yang juga tumbuh melalui proses pendidikan di Andalusia. Keduanya kini kembali ke rumah yang pernah membentuk mereka, bukan lagi sebagai santri, tetapi sebagai bagian dari mereka yang diberi amanah untuk ikut mengelolanya.
Dalam podcast tersebut, keduanya berbagi cerita mengenai perjalanan sejak pertama kali mengenal dan menempuh pendidikan di Andalusia hingga akhirnya dipercaya untuk masuk dalam jajaran struktural kepemimpinan pondok. Berbagai pengalaman selama menjadi santri turut menjadi bagian dari pembahasan, termasuk bagaimana mereka melihat perkembangan pesantren dari masa ke masa serta perubahan yang terjadi di lingkungan Andalusia.
A’wan Asyrof juga menceritakan pengalaman yang cukup mengejutkan ketika dirinya tiba-tiba ditunjuk untuk mengemban amanah sebagai lurah. Ia mengaku tidak pernah benar-benar mempersiapkan diri untuk berada pada posisi tersebut. Bahkan, keputusan tersebut baru ia ketahui pada sore hari sebelum pengumuman dilaksanakan pada malam harinya dalam acara Muharoman.
“Saya benar-benar kaget. Waktu ditunjuk itu rasanya sampai tidak bisa berkata-kata. Sore baru diberi tahu, malamnya langsung diumumkan. Sampai sekarang pun rasanya masih sulit untuk ngomong kalau saya sudah benar-benar ikhlas,” ungkap Asyrof.
Pernyataan tersebut disambut gelak tawa para peserta podcast. Di balik candaan tersebut, Asyrof juga mengungkapkan rasa tidak percaya diri dan perasaan belum pantas untuk menerima amanah sebesar itu. Namun, pada akhirnya ia berusaha menerima kepercayaan tersebut sebagai bagian dari perjalanan dan tanggung jawab yang harus dijalani.
Pembahasan kemudian berlanjut pada struktur kepengurusan dan langkah yang akan dilakukan dalam periode mendatang. Keduanya turut menjelaskan mengenai pembagian tugas dalam struktur kepemimpinan, termasuk keberadaan tim struktural maupun tim yang bekerja di balik layar atau yang mereka sebut sebagai “tim bayangan”. Keberadaan tim tersebut dipandang penting untuk menopang berbagai program dan memastikan roda organisasi dapat berjalan secara lebih efektif.
Selain membahas struktur, podcast juga mengupas sejumlah terobosan yang tengah disiapkan oleh kepengurusan baru. Berbagai gagasan tersebut diarahkan untuk merespons perkembangan pesantren sekaligus menjawab kebutuhan santri di tengah perubahan zaman. Meski demikian, keduanya menekankan bahwa setiap perubahan tetap perlu berjalan dengan mempertimbangkan nilai, tradisi, dan karakter pendidikan pesantren.
Khanifuddin kemudian menyampaikan pandangannya mengenai masa depan para santri yang lahir dari lingkungan Andalusia. Menurutnya, para santri tidak harus memiliki satu jalan kehidupan yang sama. Justru, mereka diharapkan mampu hadir dan mengambil peran di berbagai ruang kehidupan setelah menyelesaikan masa pendidikan di pesantren.
“Semoga santri-santri yang lahir dari rahim Andalusia ini ketika keluar nanti bisa menguasai ruang-ruang kosong di dunia. Tidak harus semuanya menjadi satu profesi, tetapi mereka harus mampu mengambil peran di tempat yang memang membutuhkan mereka.”
Dalam kesempatan tersebut, Khanifuddin juga mengutip dawuh Bu Nyai Rodhiyah Ghorro tentang makna kesuksesan seorang santri.
“Ora kudu dadi kyai kabeh, ora kudu dadi pegawai kabeh, tapi santri itu ada di mana-mana. Dadi kyai kabeh ya alhamdulillah, tapi ora kudu. Sing penting yo sukses. Sukses niku mboten kok kudu sugih, mboten. Tapi sukses niku mampu menjalani kehidupan dunia sehingga mangke teng akhirat kepenak.”
Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam podcast Episode 10. Kesuksesan seorang santri tidak semata-mata diukur dari jabatan, kekayaan, maupun profesi tertentu, tetapi dari kemampuan menjalani kehidupan dengan baik serta membawa nilai-nilai pendidikan pesantren ke ruang kehidupan yang lebih luas.
Podcast kemudian menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana Andalusia tidak hanya menjadi tempat seseorang menuntut ilmu, tetapi juga tempat yang suatu saat mengantarkan alumninya kembali untuk mengambil bagian dalam perjalanan lembaga. Mereka yang dahulu datang sebagai santri, kini kembali dengan membawa amanah dan tanggung jawab yang berbeda.
Melalui Podcast Episode 10 ini, Media Ma’had Aly Andalusia berupaya merekam cerita, gagasan, dan harapan dari generasi yang kini mendapat kepercayaan untuk ikut mengurus rumah tempat mereka pernah tumbuh. Kehadiran A’wan Asyrof dan Khanifuddin menjadi bagian dari cerita baru Andalusia—tentang sebuah generasi yang bukan hanya lahir dari rahim lembaga, tetapi suatu hari dipercaya untuk ikut menjaga dan mengembangkannya.
Versi lengkap Podcast Episode 10 bersama A’wan Asyrof dan Khanifuddin akan segera hadir di YouTube Ma’had Aly Andalusia. Nantikan tanggal rilisnya dan saksikan perbincangan selengkapnya.
