BANYUMAS – Pengasuh Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia, KH. Zuhrul Anam Hisyam (Abah Anam), menyambut hangat kehadiran Penasihat Grand Syaikh Al-Azhar Mesir, Prof. Dr. Nahlah Al-Saidi. Sosok cendekiawan Muslimah ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan keluarga besar santri At-Taujieh 2 Andalusia.
Suasana penuh sukacita dan kehangatan menyelimuti Pondok Pesantren Attaujieh Al-Islamy 2 Andalusia. Tokoh terkemuka asal Mesir sekaligus Penasihat Grand Syekh Universitas Al-Azhar, Prof. Dr. Nahlah El-Saidy, kembali berkunjung yang kedua kalinya untuk bersilaturahmi dengan pengasuh dan para santri. Kedatangan Dr. Nahlah disambut secara meriah oleh para santri. Dengan penuh kegembiraan, para santriwan dan santriwati berbondong-bondong memadati sepanjang jalan sambil melantunkan sholawat. Suasana terasa meriah dengan penampilan Andalusia Marching Band.
Kegiatan kunjungan ini dipusatkan di Gedung Zawiyah Al-Naqsabandiyah, serta dilanjutkan dengan acara Mukhadoroh yang bertempat di SMP Islam Andalusia. Dalam pertemuan tersebut, Dr. Nahlah mengungkapkan rasa senangnya dapat kembali melihat para santri. Dr. Nahlah memuji para santriwan dan santriwati yang dinilai memancarkan cahaya kebaikan serta kecerdasan.
Di hadapan tamu kehormatan, Abah Anam didampingi oleh sang istri tercinta, Ibunyai Hj. Rodhiyah Ghorro Maimun Zubair, beserta saudari beliau, Ibunyai Hj. Tsumanah Hisyam. Beliau menceritakan sekilas perkembangan At-Taujieh 2 Andalusia. Memasuki usia 13 tahun, pesantren ini kini sudah mendidik lebih dari 3.000 santri yang berasal dari berbagai penjuru Nusantara, membentang dari Aceh hingga Papua. Beliau menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas kehadiran Prof. Dr. Nahlah.
“Kunjungan kedua Prof. Dr. Nahlah El-Saidy ini diharapkan mampu membakar semangat juang para santri Andalusia untuk terus konsisten menimba ilmu, menjaga kualitas diri, serta meneruskan estafet keilmuan yang moderat berlandaskan nilai-nilai Al-Azhar.” Pesan Abah Anam.
Abah Anam menegaskan bahwa Prof. Dr. Nahlah adalah Tokoh yang sangat ‘Alimah, selain ‘Alim beliau mempunyai Dedikasi, kepedulian, dan keuletan dalam menjaga serta mengurus mahasiswa Al-Azhar terutama para mahasiswa dari luar Mesir yang membuat beliau dianugerahi julukan kehormatan Ummul Wafidin (أمّ الوافدين) yang berarti “Ibu Para Mahasiswa Asing”.
Sebagai tamu kehormatan yang juga menjabat sebagai penasihat pondok, beliau mengapresiasi pesatnya perkembangan Pondok ini.
“meskipun usia Pondok Pesantren Attaujieh Al-Islamy 2 Andalusia masih tergolong muda, dinamika dan kemajuannya sudah matang seolah-olah telah berdiri selama puluhan tahun”.
Beliau mengatakan bahwa ini kunjungan yang kedua, akan tetapi jarak diantara kunjungan pertama dan kedua itu tidak terlalu jauh. Rasa senang Dr. Nahlah Kembali terlihat saat para santri Andalusia penuh dengan semangat yang tidak pernah hilang, serta bagi beliau santri andalusia itu berbeda (Istimewa).
Dalam sesi ceramah dan penyampaian nasihat di hadapan para santri Andalusia, Dr. Nahlah mengangkat tema mengenai Tolak Ukur Keberagamaan Seseorang dalam mencetak generasi muslim yang baik. Dr. Nahlah menekankan pentingnya memiliki cita-cita yang tinggi dalam hidup. Beliau menganggap para santri itu sedang hijrah, maka perbarui niat kita untuk mengemban dan menyebarkan syi’ar Nabi Muhammad SAW. Menguatkan pesannya, Dr. Nahlah mengingatkan sebuah prinsip bahwa mukmin yang kuat jauh lebih baik daripada mukmin yang lemah. Oleh karena itu, seorang santri dituntut untuk memiliki ketangguhan, baik dalam semangat belajar maupun dalam segala aspek kehidupan.
“Barang siapa yang tidak pernah merasakan pahitnya menuntut ilmu walau sesaat, maka ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.”
Pesan Dr. Nahlah kepada para santri agar senantiasa tekun dan sabar dalam proses belajar.
Dr. Nahlah menambahkan bahwa kebodohan hanya akan membawa kemunduran bagi umat, sehingga konsistensi (istiqamah) dalam belajar itu hal yang utama, walaupun hanya sedikit setiap harinya merupakan sebaik-baiknya cara dalam menuntut ilmu. Beliau menegaskan bahwa kita harus menjadi seorang manusia yang wasathi, yaitu orang yang tidak terlalu condong terhadap salah satu kehidupan, tolak ukur agama dalam mencetak generasi yang berakhlakul karimah dan selalu berada dalam Minhaj nya nabi Muhammad SAW.
Mencetak generasi yang berakhlakul karimah, merupakan bentuk perhatian dari seorang pengasuh terhadap santrinya karena membentuk karakter seseorang itu lebih sulit dibanding membentuk sebuah besi. manusia adalah عبدا للتوصل. budak dari komunikasi.
Kunci membentuk pribadi yang baik
- Ihsanul amal
karena agama islam adalah agama pengaplikasian, setelah kita belajar akidah maka kita harus mengamalkannya. - Itqon fil amal (tuntas dalam amal)
ketika kita sudah tuntas dalam mengamalkan sesuatu,didalam amal tersebut allah menjamin sebuah kesuksesan.
Penulis : Tim jurnalistik
GALERI




