Tiga Penghuni Kamar Yang Tak Pernah Libur

Penulis : Denia Munadella

Di Sebuah Pondok Pesantren bernama Al-Barokah, pondok yang sudah berdiri selama bertahun-tahun dengan santri sebanyak 500, di dalam pondok ada satu kamar yang terkenal paling ramai penghuninya, bukan karena penghuninya paling rajin, melainkan karena paling sering membuat pengurus mengelus dada dengan tingkah yang mereka lakukan. Penghuni kamar itu berjumlah empat orang, namun persahabatan mereka begitu dekat seperti saudara sedarah. Mereka bernama Aji, Amin, Joko, dan Zaky.

Di dalam kamar mereka hanya ada tiga benda yang dianggap paling berjasa selama perjalanan kisah mereka di pondok, yaitu sebuah jam dinding tua yang sudah pudar warnanya, setumpuk buku yang lebih tinggi dari bantal, dan lampu belajar yang cahayanya redup seperti sedang berpuasa.

Jam dinding tua itu Suaranya keras sekali.

“Tik…tok…tik…tok…tik…tok…tik…tok…tik…tok…tik…tok…tik…tok…tik…tok…tik…tok…tik…tok…tik…tok…tik..tok…tik…tok…tik…tok..tik…tok…tik…tok…tik…tok…tik…tok…tik…tok..tik…tok…tik…tok…tik…tok…tik…tok…tik…tok…tik…tok…tik…tok…tik…tok..tik..tok..tik..tok…tik…tok…tik…tok…tik…tok…tik…tok…tik…tok…” suara jam berdetak. Setiap malam suara jam tua itu terdengar lebih jelas dari pada suara santri yang sedang muroja’ah kitab.

Pada suatu malam, saat mereka sudah selesai beraktivitas

Amin berkata, “suara jam tua itu benar-benar mengganggu waktu tidurku.”

Joko mengangguk serius mendengar keluhan temannya Amin.

“Benar sekali. Suaranya bagaikan radio lama yang sudah rusak.”

Mereka berempat tertawa mendengar perbincangan Amin dan Joko.

Sementara itu, di sisi lain Aji sedang membuka buku nahwu yang tadi dipelajari saat mengaji sore bersama pak kyai. Sudah lebih dari 30 menit dia menatap halaman yang sama tanpa membuka lembar selanjutnya.

“Sudah sampai mana belajarnya?” tanya Zaky

“Masih awal bab mubtada khobar” Aji menjawab dengan nada mantap

“Loh, dari tadi membuka buku masih belum lanjut ke lembar selanjutnya?.”

“Iya, aku sedang menghayati dengan sepenuh hati, semoga bisa masuk dengan permanen kedalam otakku.” Seketika tawa diantara mereka pecah kembali mengisi ruang yang sempat sunyi.

Tiba-tiba lampu kamar berkedip-kedip.

“Mungkin lampunya sudah mengantuk, ingin istirahat” kata Amin dengan memandangi lampu yang berkedip-kedip itu.

Joko, Aji dan Zaky mengangguki perkataan yang keluar dari mulut Amin.

Lampu kembali berkedip-kedip lebih lama dari sebelumnya.

Seketika Joko langsung berdiri.

“Jangan-jangan lampunya memberi kode untuk kita”

“Kode apa?”

“Kode kalau kita belum bayar listrik”

“Itu urusan pengurus, bukan kita”

Tawa mereka kembali pecah bersama.

Beberapa menit kemudian pengurus berbagi tugas untuk ronda malam agar memastikan para santri sudah tidur. Salah satu dari pengurus yang ronda melewati kamar yang di singgahi oleh Aji, Joko, Amin dan Zaky. Ia mendengar perbincangan yang masih ramai di dalam kamar sehingga menarik langkah kakinya menuju kamar tersebut. Pengurus tersebut mengetok pintu kamar tersebut.

“Tok…tok…tok…tok…” Suara ketukan pintu terdengar pelan dari luar kamar. Kemudian pengurus tersebut membuka pintu kamar itu pelan-pelan.

“Ayo tidur! Sudah jam dua belas lebih lima belas menit! Sudah melebihi batas waktu tidur, besok kalian bisa bangun kesiangan” Katanya dengan nada yang terdengar sangat tegas namun raut wajahnya terlihat sudah lelah.

Empat sahabat itupun menjawab dengan kompak, “Siap!!”

Pengurus tersebut menghela nafas panjang kemudian kembali menutup pintu kamar tersebut dengan pelan-pelan,

Begitu langkah pengurus terdengar menjauh……

Amin dan Joko membenarkan tempat tidur mereka dan mencari tempat yang nyaman untuk tidur. Disisi lain Buku nahwu yang Aji dan Zaky gunakan untuk belajar ditutup dan dikembalikan ke lemari tempat penyimpanan kitab-kitab mereka bersama.

Aji dan Zaky melangkah menuju tempat tidur untuk menidurkan tubuhnya yang sudah lelah.

Lampu yang dari tadi berkedip-kedip dipadamkan oleh Zaky sebelum berbaring, Namun baru sepuluh detik lampu dimatikan, lampu kembali menyala. Zaky menghela nafas dalam, dengan terpaksa ia akhirnya berdiri kembali mematikan lampu tersebut. Tapi lampu kembali menyala selang beberapa waktu dimatikan, akhirnya Zaky menyerah… Setelah bertarung dengan lampu kurang ajar itu, ia pun membanting tubuhnya ke kasur dan menutup wajahnya dengan sarung yang biasa ia gunakan untuk selimut. Akhirnya mereka berempat beradu dengan lampu yang berkedip-kedip tanpa henti hingga waktu berganti pagi yang diringi suara bunyi jam tua yang menggema seisi kamar mereka.

Pada pagi hari….

Alarm berbunyi keras namun suaranya terdengar samar sehingga mereka berempat tak mendengarnya. Ternyata, jam alarm itu tertindih di bawah bantal yang ditiduri oleh Zaky. Bantal Zaky bergetar saat jam alarm berbunyi, namun Zaky justru memeluk jam alarm itu sambil berkata, “Iya, nanti…”

Alhasil mereka berempat bangun kesiangan. Mereka berempat bersiap-siap dengan begitu tergesa-gesa, mereka berlarian menuju kelas dengan penuh harap pak ustadz belum masuk kedalam kelas.

Sesampainya mereka di kelas, harapan mereka pupus, pak Ustadz sudah masuk dan sedang mengajar di dalam kelas. Mereka berempat saling dorong mendorong di depan pintu kelas karena takut memasuki kelas, tak berselang lama pak Ustadz pun menyadari mereka berempat sedang ada didepan kelas.

“Masuk!!” Ucap ustadz dengan tegas.

Seketika semua murid terdiam mendengar satu kata yang baru saja keluar dari guru mereka. Mereka berempat berjalan beriringan memasuki kelas dengan keringat dingin yang sudah membasahi punggung mereka. Akhirnya Mereka berempat pun mendapatkan mauidhoh hasanah yang tiada hentinya dari pak ustadz serta diiringi oleh jam dinding di dalam kelas yang berdetak pelan, sehingga tanpa disadari waktu belajar santri yang lain pun terpotong hingga waktu mengaji selesai.

Sepulang mengaji, mereka mendapat tugas merangkum penjelasan satu kitab penuh di dalam buku.

Sebuah ide licik muncul dipikiran Amin, Ia membuka kitab dan mulai merangkum namun baru lima lembar, ia langsung membuka lembar tengah kitab murodan yang sedang ia rangkum.

“Lho, kenapa langsung buka lembar tengah kan baru lima lembar tadi?” tanya Joko kebingungan

“Biar adil, Kalau mulai dari depan kasihan halaman belakang takut nggak ketulis karena tangan ini sudah lelah” Joko menahan tawa mendengar jawaban Amin.

“Rangkum yang bener nggk usah di lewat-lewati nanti kalo ketahuan sama pak ustadz hukumnya jadi makin berat!” Nasehat Zaky.

Mereka pun sibuk dengan buku mereka masing-masing untuk menyelesaikan hukuman.

Bulan berganti matahari, pagi pun tiba menjemput dengan sangat hangat. Kali ini mereka tidak bangun kesiangan karena tidur tepat waktu dan masa bodoh dengan lampu yang terus berkedip-kedip tanpa henti yang beriringan dengan suara jam tua yang berdetak. Mereka berjalan beriringan menuju ruang pak ustadz untuk mengumpulkan tugas mereka.

“Tok..Tok…tok…tok…” suara ketokan pintu terdengar

“Masuk!!” Jawaban pak ustadz terdengar dari dalam dengan samar pertanda pintu boleh dibuka dan mereka diizinkan masuk.

Merekapun masuk satu persatu kemudian melangkah bersama mendekati pak ustadz.

“Pak ustadz ini rangkuman kitab yang sudah kami kerjakan.” ucap Aji mewakili teman-teman dengan menyodorkan keempat buku yang sudah penuh coretan tinta mereka tadi malam.

“Bagus! Lain kali kalau telat lagi, akan saya kasih hukuman yang lebih berat dari ini”

Mereka berempat hanya menyengir kuda mendengar perkataan yang keluar dari pak ustadz

“Kami permisi pak ustadz”

Pak ustad mengangguk sebagai jawaban ‘iya’

Saat Malam hari tiba, mereka kembali belajar membuka buku-buku yang menumpuk namun tak pernah selesai mereka baca. Saat mereka sedang belajar, beberapa menit kemudian Lampu kamar tiba-tiba mati.

“Pertanda waktu tidur telah tiba” usul Amin cepat.

Belum sempat semua setuju, lampu menyala kembali namun dengan cahaya yang redup.

“Kasihan sekali lampu itu, Baru sebentar istirahat sudah disuruh kerja lagi” Amin menghela napas panjang.

Aji berkata, “lebih kasihan itu bukunya, Baru juga di baca berapa halaman sudah ganti buku lagi dan lagi”

Semua langsung saling pandang mencerna ucapan yang baru saja mereka dengar. Mereka sadar ucapan itu benar buku mereka memang penuh dengan pembatas, Sayangnya, pembatasnya lebih banyak daripada halaman yang selesai dibaca.

Suatu hari datanglah pengurus untuk inspeksi kamar, Pengurus tersebut melihat tumpukan buku yang menumpuk begitu banyak.

“Wah, rajin sekali.”

Empat santri tersenyum bangga.

Pengurus mengambil satu buku “masih bersih”

Buku kedua “masih bersih”

Buku ketiga “masih ada plastiknya” Pengurus menghela napas.

“Bukunya banyak?” Tanya pengurus

“Iya, Pak”

“Yang dibaca?”

“…Masih musyawarah”

Seluruh kamar tertawa, termasuk pengurus.

Beberapa hari kemudian jam dinding tua itu tiba-tiba berhenti berdetak yang membuat Semua panik.

“Waduh! Jamnya rusak!” Zaky berkata dengan nada kebingungan

“Bukan rusak”

“Lalu?”

“Mungkin dia capek melihat kita selalu bilang ‘sebentar lagi’ setiap akan melakukan hal apapun”

Semua pun terdiam yang membuat pikiran mereka melayang ke masa lalu.

Keesokan harinya, jam tua yang biasanya mengeluarkan suara yang begitu keras akhirnya diganti, Lampu yang biasanya berkedip setiap malam bagaikan lampu disko juga diganti dengan yang lebih terang dan pastinya tidak berkedip-kedip lagi.

Namun anehnya, kebiasaan mereka tetap sama seperti sebelumnya

Lampunya sudah terang, Bukunya lebih tebal, Jam baru yang sudah tak mengeluarkan suara keras, tak merubah kebiasaan yang sudah menetap pada diri mereka berempat yang berubah hanya alasan menunda belajar.

“Sebentar lagi.”

“Lima menit lagi.”

“Habis minum teh dulu.”

“Habis ngobrol dulu sebentar.”

Sampai suatu hari saat mengaji, pak ustaz memberi sebuah nasihat untuk penutup pelajarannya

“Buku tidak akan pindah isinya ke kepala hanya karena dipeluk, Lampu tidak akan membuat kalian pintar kalau dipakai untuk bergosip, dan jam tidak akan berhenti hanya untuk menunggu orang yang suka menunda”

Semua santri mencerna dan merenungi apa yang baru saja mereka dengar dari perkataan pak ustadz hari ini. Perkataan nasehat pak ustadz memang bermanfaat tapi juga seperti menyindir. Sejak malam itu mereka benar-benar mulai belajar dengan lebih benar. Meski tetap ada tingkah lucu untuk menghibur ruang sunyi mereka.

Suatu malam Joko tertidur di atas buku yang sedang ia baca. Ketika dibangunkan, ia berkata setengah sadar,

“Sudah sampai halaman berapa?”

Amin menjawab,

“Kamu bukan membaca. Kamu sedang menekan isi buku supaya cepat masuk.”

Gelak tawa kembali memenuhi kamar.

Jam terus berdetak tanpa henti.

Buku terus terbuka perlahan, lembar demi lembar.

Lampu terus menyala menemani waktu belajar mereka.

Dan kamar mereka tetap menjadi kamar yang paling berisik—bukan karena ribut bertengkar, tetapi karena dipenuhi tawa mereka berempat yang percaya bahwa belajar akan terasa lebih ringan jika diselingi canda tawa kebersamaan, selama candaannya tidak membuat lupa tujuan datang ke pesantren yaitu untuk mencari ilmu dan memperbaiki diri menjadi versi yang lebih baik.



Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id dan kompaswalimah.com. Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.