Penulis : Mujiburrohman
Berbeda dengan santri-santri yang biasanya selalu digambarkan sebagai santri alim, hafal Al-Qur’an, tampan, sangat digandrungi santriwati, kesayangan kyai, hingga dijodohin dengan kembang pondok.
Santri yang satu ini benar-benar berbeda. Zaid adalah satu dari ribuan santri yang mempunyai tampang di bawah rata-rata. Eh bukan, malah jauh di bawah rata-rata. Hmm… gimana ya biar halus penggambarannya? cakep sih enggak, tapi kalau dibilang jelek sih… emang iya. Jelek banget malah. Kalau muka Zaid disandingkan dengan fotonya bekantan pun, muka Zaid terlihat sedikit lebih baik ketimbang foto bekantan, kalau dibandingkan sama muka bekantannya? yaaa…. sama aja.
Zaid dilahirkan dalam keluarga petani yang serba kekurangan, membuat Zaid harus bekerja sejak awal dia mondok untuk tambahan uang jajan. Dikisahkan, bahwa Zaid pernah menjadi kuli panggul sejak Tsanawiyah untuk membeli kitab-kitab pelajaran. bahkan tubuhnya kekar dan penuh luka akibat kecelakaan kerja saat kerja.
Selain itu, Zaid juga pernah mencoba untuk berbisnis jual beli pulpen Hi-tech C yang terkenal mahal itu. Namun semua itu tidak laris dan membuatnya bangkrut. Akhirnya, Zaid membantu kyai untuk mengurus sawah dan ladang yang hasil buminya ia jual ke pasar yang tak jauh dari pondok.
Dibandingkan dengan santri tajir, pintar, dan tampan. Santri seperti zaid lah yang banyak populasinya. Cerita-cerita santri ‘sempurna’ yang tersebar hanyalah fatamorgana yang membuat santri-santri yang mukanya bergenre siksa kubur jadi berharap bisa menemukan seorang pendamping yang sempurna, dan berharap bisa jadi alim.
Tidak hanya kekurangan dari segi keuangan, Zaid juga serba kekurangan dari segi akhlak. Konon dikatakan Zaid adalah buronan paling dicari keamanan pondok (Top 10 ODP versi keamanan pondok). Dimulai dari kasus mencuri ayam tetangga hingga ghoshob sendal kyai.
Bahkan suatu ketika Zaid sedang kesal dengan seorang ustadz yang selalu membuatnya berdiri disetiap majelis tahfidz selama 2 jam (karena dia tidak hafal-hafal). Apa yang Zaid lakukan?Apakah ia nangis? ahhhh itu hanya untuk santri baru, ataukah ia ngambek dan tidak mau tegur sapa dengan ustadznya? ahhhh itu terlalu mainstream untuk santri sekaliber Zaid.
Zaid mencari motor Vixion putih kesayangan ustadz tersebut, lalu ia mencopot busi beserta ecu Vixion putih itu dan menjualnya ke bengkel kang Udin yang berada disebelah warung ayam geprek pondok.
Hingga para ustadz pun agak ngeri-ngeri sedap untuk menghukum Zaid, bahkan ustadz pemilik Vixion putih tersebut sampai mengganti warna motornya menjadi hitam doff dengan scotlight garis-garis merah disampingnya.
Benar-benar santri idaman. Bagaimana? sudah cukup memprihatinkan bukan hidup seorang Zaid?
Oh, kurang prihatin?
Baik, mari kita tambahkan fakta berikutnya.
Jika di cerita-cerita fiksi remaja kebanyakan orang yang miskin dan jelek akan diberikan kepintaran oleh Allah, tapi tidak dengan cerita Zaid. Selama dia mondok dari SMP sampai SMA kelas 3, Zaid selalu masuk ranking 10 besar, tapi dari belakang. Zaid benar-benar terbelakang kalau masalah pelajaran. Terlebih lagi orang tua Zaid memaksanya untuk masuk pondok pesantren yang sistemnya gontor, kurikulumnya tahfidz, belajarnya kitab kuning ala pondok salaf. Alhasil, sekarang Zaid makin terbelakang saja di kelasnya. Sudah miskin, jelek, ditambah bodo. Lengkap banget 3 in 1, kayak sunlight sachetan.
Beberapa mata pelajaran di pondok sudah pasti otomatis remedial, seperti Nahwu, Shorof, Mantiq, Balaghoh, Fiqih, Ushul Fiqih, Qoidah Fiqih, Mustholah Hadist, Qiro’ah, dan Istima’. Alias Zaid remidi hampir di semua mata pelajaran. Sungguh santri yang berbudi pekerti, mungkin dia buat mazhab sendiri untuk memahami fan-fan keilmuan tersebut. Alangkah bangganya para ulama terdahulu dengan Zaid.
Kembali ke cerita fiksi remaja, biasanya karakter utama itu jago berantem. Apalagi yang mukanya seperti Zaid. Tapi? Nyatanya, Zaid tidak pernah berantem sama sekali. Jikapun ada, itu berantem rebutan kamar mandi yang keburu musuhnya takut duluan gara-gara liat tampangnya Zaid yang lebih mirip petasan banting daripada manusia.
Biasanya, orang-orang takut duluan sebelum berantem melawan Zaid (walaupun Zaid juga takut). Alhamdulillah, akhirnya ada sisi positif nya Zaid. Muka petasan bantingnya berguna juga. Zaid pikir, mukanya itu hanyalah aksesoris dari Allah.
Lalu, apa kelebihan Zaid? Jago rebana atau Nasyid? Tidak, Zaid tidak bisa sama sekali memainkan alat musik. Jangankan alat musik, napasnya saja kadang fals.
Jadi, Apa sebenernya kelebihan Zaid?
Tidak ada.
Benar-bener tidak ada.
Walaupun Zaid hidup mengenaskan, tapi ia tidak pernah menyerah bagaimana pun keadaannya, dan membuatnya harus bekerja sambil belajar untuk tetap hidup, dia selalu tersenyum dan tertawa. Zaid berkata: “Hidup tuh, cuma perkara bahagia, sedih, dan ngopi, sisa nya tinggal bilang ‘ya Allah gini amat hidup’ terus tinggal diketawain”.
Sering kali hal-hal sulit yang kita alami membuat kita ingin mengakhiri hidup. Begitu juga dengan Zaid. Suatu hari, ketika Zaid tertimpa beragam masalah yang sangat berat hingga ingin mengakhiri hidupnya, dia mengurungkan niat tersebut dengan alasan siapa tahu nanti kyai ngasih dia ayam geprek. Tidak perlu alasan besar untuk tetap hidup, cukup dengan alasan sepele seperti “Aku harus hidup biar bisa ngopi di kafe pondok lagi” ataupun “Aku harus hidup biar dapet lauk ayam pas hari libur”.
Karena ketika kita mengalami skenario terburuk pun, kita tetap memiliki alasan bertahan dengan mensyukuri alasan-alasan sepele itu. Sejatinya, masalah yang datang kepada kita adalah cara Allah mengingatkan kita untuk merasakan hal yang sama dengan orang lain.
Bahkan ketika kita memiliki skenario yang kita anggap terbaik malah menjadi yang terburuk, dan kebalikannya skenario yang kita anggap terburuk malah menjadi yang terbaik. Disini Allah menunjukan bahwa keterbatasan akal kita dalam memilih jalan yang baik dan yang buruk.
Maka yang harus kita lakukan hanya perlu menjadi Zaid. Walaupun hidupnya sangat amat kurang di segala bidang dan aspek, tapi ia tetap bekerja keras dan tetap tersenyum.
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial
